Tak Berkategori

Yang Tidak Ada Lagi di Ramadan Kali Ini

Setiap orang memiliki kebiasaan atau rutinitas khusus yang hanya dilakukan pada saat bulan Ramadan. Kebiasaan atau rutinitas tersebut biasanya jauh-jauh hari telah dijadwalkan bahkan ditunggu-tunggu dan dirindukan. Katakanlah buka bersama yang paling umum, mengikuti pondok Ramadan, membagikan takjil di jalan, mengisi materi pondok Ramadan, menjadi imam tarawih atau iktikaf di suatu masjid pilihan (langganan).

Saya pun demikian. Sejak beberapa tahun lalu, saya juga mempunyai kebiasaan dan kegiatan rutin saat Ramadan. Dari sekian kebiasaan atau rutinitas yang sudah berjalan bertahun-tahun, sayangnya kali ini ada beberapa yang mulai tidak saya lakukan lagi. Padahal hal tersebut sangat saya rindukan. Tapi, karena keterbatasan waktu dan kesempatan saya pun harus merelakan Ramadan berlalu tanpa hal tersebut.

Apa saja yang membuat saya rindu?

Sholat Tarawih di Masjid AR. Fachruddin-UMM

Setiap warga atau mahasiswa yang berada di Malang pasti tidak asing lagi dengan masjid yang indah ini. Banyak kegiatan yang dilakukan di masjid ini. Mulai dari kajian, sholat Jumat, akad nikah, kuliah Ahad pagi, kuliah hingga tarawih semua pernah dilakukan di masjid ini. Apalagi tarawih di bulan Ramadan ini. Sejak pertama menjadi mahasiswa UMM, saya selalu mengikuti sholat tarawih dan iktikaf di sini. Sholat di masjid ini memiliki suasana yang berbeda menurut saya. Entah ini sholat wajib maupun tarawih. Shalat tarawih di sini memang berlangsung lama. Biasanya selesai sekitar pukul 20.30 WIB. Surat yang dibaca sang imam memang panjang-panjang, tapi surat-surat tersebut mampu dibawakan dengan baik oleh sang imam dengan suara yang medu dan selalu memukau jamaahnya. Tidak jarang, sholat tarawih di sini akan sering mendengar suara sesenggukan dari jamaah yang meneteskan air mata apalagi ketika iktikaf. Tapi suasana khusyuk sangat terjaga. Inilah yang membuat saya setiap Ramadan selalu menyempatkan shalat tarawih di masjid ini sekalipun jarak tempat tinggal saya sekarang dengan masjid ini cukup jauh. Tapi, tahun ini saya absen. Kegiatan bulan ini memang luar biasa padatnya dan membuat saya lebih memilih sholat di masjid dekat kos karena merasa kelelahan. Sayang sekali.

Berbuka di Kedai Assalammualaikum

Kedai ini juga pasti tidak asing lagi bagi warga Malang. Khususnya mahasiswa UMM. Kedai dengan nama yang unik ini tepat berada di depan kampus 3 UMM. Memiliki beragam menu lezat dengan harga terjangkau menjadikan kedai ini tak pernah sepi dari pengunjung dan menjadi kedai favorit mahasiswa bahkan pendatang dari luar kota seperti wali mahasiswa pasti juga tidak asing dengan kedai ini. Mau makan harian, traktiran, reuni, maupun syukuran, kedai ini bisa menjadi pilihan utama. Setiap tahun, teman kuliah, teman organisasi selalu mengadakan buka bersama di sini. Lagi-lagi karena suasana dan juga kenangan-kenangan yang masih melekat di kedai tersebut menjadikannya selalu dirindukan untuk dikunjungi. Tapi tidak Ramadan kali ini. Entah kenapa tahun ini dari banyaknya ajakan buka bersama tidak ada satupun yang mengadakan di kedai tersebut. Kebanyakan ajakan berbuka kali ini lebih banyak dilakukan di rumah dengan konsep potluck atau masak bersama. Mungkin ini salah satu karena saya yang sebelumnya Ramadan kemarin bertekad akan mengurangi acara bukber-bukber dan semesta mendukung hehehe.

Mengisi Kajian atau Pondok Ramadan

Sejak beberapa tahun yang lalu, saya mendapat amanah untuk menjadi narasumber secara rutin di beberapa kampus atau sekolah untuk mengisi acara Ramadan mereka. Baik itu kajian menjelang berbuka mahasiswa di kampus maupun pondok Ramadan di sekolah-sekolah (kecuali sekolah tempat saya mengajar). Inilah kebiasaan yang paling saya senangi. Saya suka bertemu banyak orang baru. Apalagi mahasiswa dan anak-anak dari sekolah lain. Mereka selalu membawa energi positif dalam diri saya. Oh ya, saat menjadi narasumber di kampus, materinya tidak selalu tentang agama (karena saya banyak menolak kalau diminta mengisi materi agama kecuali terpaksa, merasa belum pantas sih) jadi kadang materinya tentang kepenulisan. Kalau ke sekolah-sekolah saya masih PD berbicara tentang agama, karena lawannya masih anak-anak hehehe. Nah, kali ini saya juga absen dari kebiasaan ini. Kenapa? Mungkin ini tanda-tanda redupnya masa kejayaan saya hihihi. Tidak, tidak, insyaAllah tidak begitu. Pertama untuk di kalangan mahasiswa, H-1 puasa saya baru saja menjadi narasumber di kajian mahasiswa (IMM) yang meminta saya berbicara tentang refleksi Hari Pendidikan Nasional dan dari sana saya lihat dunia kampus di Malang Raya sedang fokus ujian, pemilu raya kampus dan mepet libur panjang. Mungkin mereka tidak fokus kajian lagi hehehe. Kedua, dari kalangan sekolah, beberapa hari yang lalu saya kedatangan 2 surat permohonan menjadi pemateri pondok Ramadan tapi saya menolak karena jadwal yang bentrok dan satunya lagi lokasi sekolah yang sangat jauh dan tidak memungkinkan bagi saya ke sana sekalipun ada yang mengantar. Dan bisa dipastikan sampai akhir Ramadan nanti saya tidak akan melakukan rutinitas ini lagi karena sudah persiapan mudik juga.

Melakukan banyak kebiasaan (kegiatan positif) di bulan Ramadan selalu memberikan warna tersendiri. Sekalipun terkadang di awal terasa melelahkan, tapi saya tetap merindukannya.

Iklan
Tak Berkategori

Media Sosial Lumpuh? Tidak Masalah

Whats App, Instagram, dan Facebook menggegerkan sebagian besar masyarakat Indonesia hari ini. Hal ini lantaran ketiga platform andalan sejuta ummat tersebut lumpuh total. Meskipun di beberapa kota tertentu ada yang masih bisa mengakses what’s app katanya. Saya sendiri dibuat kacau dan kelimpungan seharian tanpa mereka. Apalagi besok ada visitasi di tempat kerja yang tentunya kami memerlukan koordinasi sewaktu-waktu di luar jam kerja. Gawai serasa alat komunikasi di jaman 80-90an (hanya untuk telepon dan SMS).

Tapi, semakin lama saya menyadari bahwa saya tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima kenyataan tersebut. Saya berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa itu semua tidak masalah. apalagi begitu tahu bahwa Wordpress, Twitter, dan tumblr baik-baik saja. Dari kondisi yang seperti ini saya justru dapat memetik hikmah seperti berikut ini:

Menyelesaikan raport yang tertunda

Beberapa hari yang lalu saya memang sedang fokus mengerjakan raport siswa. Tapi, karena ada beberapa agenda khususnya di akhir pekan saya mengalihkan fokus saya untuk agenda-agenda tersebut. Terutama launching buku terbaru. Karenanya juga saya sempat tidak tidur semalaman dan beberapa hari hanya tidur 3-4jam setiap malamnya karena harus menyiapkan banyak hal. Nah, dengan kondisi seperti ini, saya bersyukur karena hari ini saya membatalkan sebuah acara dan menggantinya dengan kembali fokus menyelesaikan raport siswa yang dalam beberapa hari lagi akan dibagikan.

Menambah porsi tidur

Karena beberapa hari ini (bahkan di hari week day) kegiatan tambahan sangat padat membuat saya kurang tidur. Jadwal tidur saya lebih kacau dari biasanya. Malam harinya saya gunakan untuk mengerjakan pekerjaan sekolah.
Saking kacaunya, kemarin lusa saya terlambat dua kali dalam sehari karena tidak kuat menahan kantuk dan akhirnya saya ketiduran. Hari ini, dengan kondisi gawai yang tidak bersahabat, saya memilih mencoba tidur siang sebelum menyelesaikan raport. Hitung-hitung mengganti jam tidur yang banyak kurangnya beberapa hari yang lalu dan melemaskan tulang punggung yang harusnya sudah dipijat. Alhamdulillah kali ini berhasil tidur dan berlangsung hingga 2 jam. Lumayan.

Berbuka di kos

Saya sangat merindukan suasana berbuka di kos. Saya cukup lama tidak berbuka di kos Ramadan kali ini. Hal itu karena saya harus mengikuti beberapa kegiatan yang juga sepaket dengan berbuka puasa dan tarawihnya. Kebetulan hari ini sudah membatalkan acara otomatis membuat saya ada waktu untuk berbuka di kos. Saking lamanya tidak pernah berbuka di kos, tadi teman kos kaget dan terheran-heran begitu melihat saya ada di kos menjelang waktu berbuka.

Mendapat nikmat yang tak terkira seperti di atas sangat jarang bagi saya dan bersyukur hari ini bisa memanfaatkannya dengan baik. Semoga begitu juga dengan teman-teman. Beberapa waktu menjauh dari gawai terkadang menjadi pilihan yang tepat. Oh ya, jangan lupa berdoa untuk negeri tercinta kita ya.

Tak Berkategori

Mereka Yang Tak Memiliki Jaminan Hidup Untuk Hari Esok

Pernah tidak kamu membayangkan jika hari esok kamu akan tidur di mana? Apakah hari esok kamu masih bisa menikmati beberapa bulir nasi? Atau masih ada uang yang tersimpan beberapa lembar untuk menyambung kehidupan? Apakah perasaan khawatir itu pernah menghantuimu setiap hari. Jika tidak, maka bersyukurlah untuk kehidupan yang kamu nikmati sekarang ini. Kamu tidak perlu mencari di mana tempat yang aman untuk berteduh dan beristirahat sebab tempat tidurmu senantiasa selalu siap sedia menampung tubuhmu untuk direbahkan. Kamu tidak perlu memikirkan makan siang atau makan malam karena semuanya tersedia di meja makanmu. Kamu tidak perlu khawatir untuk menyambung hari esok sebab dompetmu senantiasa ditemani dengan beberapa lembar uang kertas.

Sementara, mereka yang di luar sana bermandikan debu dan angin malam sama sekali tidak memiliki jaminan hidup untuk hari esok, hanya bergantung kepada belas kasihan setiap orang yang bertemu dengan mereka. Tidak ada wewangian yang dipakai oleh mereka, sebab itu tidak penting; hanya sebungkus nasi dan alas tikar yang mereka butuhkan setiap harinya. Tidak peduli terhadap panasnya siang dan dinginnya malam. Karena yang terpenting adalah mereka dapat merebahkan tubuh untuk beberapa saat di mana saja. Karena bagi mereka semua tempat terasa layak untuk berteduh. Banyak ancaman kejahatan dapat mereka temui di mana saja tanpa adanya perlindungan, karena dunia mereka berada di luar rumah. Bagi mereka, pohon yang rindang, di bawah jembatan yang tinggi, gedung tua dapat menjadi rumah untuk sehari, dua hari, atau bahkan seterusnya.

Terkadang, mereka pasti menyalahkan takdir kehidupan – merasa bahwa keadilan teramat jauh untuk kehidupan mereka; bahkan bahagia tidak memihak. Tetapi, senantiasa mereka tetap menjalani kehidupan yang sesak itu, dilalui hari demi hari. Sebagian orang yang melihat akan merasa berat cobaan hidup mereka. Tetapi bagi mereka ini adalah sebuah tantangan kehidupan yang harus dijalani. Di mata dunia, mereka tidak memiliki jaminan hidup dihari esok, tetapi bagi Sang Pencipta mereka bukan hanya memiliki harapan namun Sang Pencipta pun memberikan jaminan untuk kehidupan mereka setiap harinya, hanya saja dengan cara yang berbeda.

Hargailah setiap apapun yang telah kamu miliki. Teruslah bersyukur atas apa yang telah kamu miliki. Rasa bersyukur itu akan semakin meningkat jika kamu membandingkan hidupmu dengan orang-orang yang hidupnya masih jauh di bawah kata ‘cukup’. Dari mereka kamu dapat belajar dan mengikuti untuk tidak mudah menyerah dalam menghadapi setiap tantangan dalam hidup ini.

Tak Berkategori

Mari Kita Nikmati

Anggap saja saat ini adalah sebagai titik awal. Anggap saja semua akan bermula dari saat ini.

Seringkali kita penasaran akan seperti apa cerita kita satu, dua, tiga, atau beberapa tahun ke depan.

Siapa kah sosok yang akan banyak kita ceritakan? Siapakah sosok yang akan membayangi setiap cerita kita?

Kejadian apa yang akan membersamai kita dalam cerita selanjutnya?

Mari, nikmati saja setiap detiknya perjalanan ke depan. Sedih, senang, kecewa, marah, dan bingung hanyalah sekelumit warna kehidupan. Sadari, setiap masa selalu punya cerita yang berbeda dan pembelajaran yang selalu dapat dipetik hikmahnya.

Tak Berkategori

Penerimaan

Setiap kita memiliki pengalaman yang berbeda. Kita tidak bisa menyalahkan cara pandang orang lain terhadap sesuatu. Karena setiap kita memiliki benar salahnya masing-masing. Semua tak sama, tapi banyak dari kita yang mungkin senada.

Kadang kita sama-sama ingin pengakuan, ingin kasih sayang yang tulus, ingin ruang yang aman, ingin sepi, ingin kesempatan, ingin sandaran, ingin dimengerti, ingin diperhatikan, ingin diprioritaskan, ingin dipuji, ingin ingin didengar, ingin banyak hal, atau hanya sesederhana senyuman.

Namun untuk mendapatkannya, kadang kita hanya perlu berhenti berharap dan mulai melakukan yang kita inginkan -pada orang lain. Memberi pujian, memberi pengertian, memberi perhatian, memberi dengar, memberi senyuman, memberi apa yang masih bisa kita lakukan.

Karena dengan memberi, kita akan semakin tajam memahami arti penerimaan.

Tak Berkategori

Menanam Itu Menanam Harapan Juga

Untuk mengisi hari libur, saya bersama dengan seorang teman pergi ke pasar bunga Splendid. Sebenarnya ini adalah rencana yang tertunda sejak beberapa hari yang lalu lantaran aktivitas yang tidak terkontrol. Dan hari ini tanpa perlu berdebat panjang menentukan waktu kapan harus berangkat, maka berangkatlah kami tepat pukul 10.30 WIB. Jarak Splendid ke kos tidak begitu jauh, hanya memerlukan waktu sekitar 10 menit untuk menujunya. Pasar bunga tersebut memang berada tepat di tengah kota. Menjadikannya mudah dijangkau dan sering saya kunjungi

Terkadang, tanpa tujuan yang jelas, saya dan teman-teman sering berkunjung ke Splendid sepulang kerja hanya untuk melihat-lihat koleksi tanaman yang ada di sana. Tanpa membeli suatu apapun. Terkadang, kami datang ke sana hanya untuk hunting foto, memanfaatkan tatanan aneka tanaman karya penjual-penjual yang tertata rapi di kios-kios. Menurut saya, berkunjung ke pasar bunga Splendid ini memang dapat mengurangi stres dan penat setelah seharian beraktivitas.

Kali ini, saya ke sana ada tujuannya dong. Saya diminta adik untuk mencari benih kaktus. Sebelumnya saya sudah mencari informasi secara daring terkait keberadaan benih kaktus tersebut dan memang nihil hasilnya. Tapi, berkat dorongan teman yang memaksa saya untuk mencari langsung ke pasarnya, sayapun mengiyakan karena memang sedang pengangguran di kos. Setelah mencari dan bertanya ke sana kemari, benar saja benih kaktus memang tidak ada di Splendid. Yang banyak saya temukan di sana sudah berupa bibit kaktusnya. Menurut informasi salah satu penjual bahkan benih kaktus memang tidak ada yang jual di Malang karena sulit, kalaupun ada itu pasti untuk ditanam sendiri.

Mengingat posisi matahari hampir berada tepat di atas kepala, saya memutuskan berhenti mencarinya lagi. Saya percaya saja apa yang dikatakan penjual tadi. Ketika saya memutuskan untuk pulang, teman saya mencegah dan dia berkata rugi kalau sudah sampai Splendid tidak membeli sesuatu. Saya tersentak dong, akhirnya saya putar balik dan mengajaknya keliling Splendid lagi untuk mencari tanaman hias. Sok-sokan gitu seperti orang yang punya rumah dengan lahan yang luas bisa menanam apa saja di rumahnya. Padahal saya kan anak kos, numpang di rumah orang hahaha.

Tapi tidak apa kan ya? Saya sejak kecil sebenarnya suka menanam. Dulu sih sering tiap sore sepulang sekolah TPQ menanam tanaman bersama Ibu Bapak di rumah. Mulai dari menanam, menata, dan menyiangi rumput liar yang tumbuh di pot bunga atau halaman rumah, hingga menyiram kami lakukan bersama. Di kos sebelumnya, saya juga pernah membeli bunga dan merawatnya dengan baik hingga saya pindah kos.

Saya percaya, berkebun atau bertanam itu membuat orang terhindar dari stres dan katanya juga memperpanjang usia. Selain itu, bertanam bagi saya juga sama halnya menanam harapan. Kita tidak hanya dituntut untuk menanam kemudian selesai. Kita juga harus melanjutkannya dengan merawat dan berinteraksi dengan tanaman tersebut. Sembari terus kita berharap tanaman tersebut akan tumbuh dengan baik dan cantik. Ada proses bersabar juga di dalam menanam.

Kali ini saya ingin melakukannya lagi meskipun dengan skala yang berbeda. Saya hanya membeli dua buah tanaman yang saya rasa mudah tumbuh dan merawatnya. Saya ingin mempermanis meja kecil yang ada di salah satu sudut ruang kos. Akhirnya saya memilih sebuah tanaman (yang saya lupa tidak menanyakan apa nama tanaman tersebut). Selain bentuk daun yang mungil, saya suka warnanya. Terlebih, menurut penjualnya tanaman tersebut bagus untuk hiasan di dalam ruangan. Langsunglah saya jatuh hati dan meminangnya. Selanjutnya saya mencari pot yang sesuai dengan tanaman tersebut. Tak lupa saya juga membeli batu hias untuk membuat tanaman tersebut semakin menarik.

Sekarang tanaman tersebut sudah berdiri cantik di salah satu sudut ruang kos dan siap menemani hari-hari saya. Khususnya setiap sore saya pasti akan mengajaknya ngobrol. Eh, bukan. Tepatnya dia akan menjadi pendengar setia.

Tak Berkategori

Hati dan Jiwa

Hati, tolong sabar.

Air mata, tolong jangan keluar.

Pikiran, tolong positif saja.

Mulut, tolong kunci semua.

Jiwa, yang kuat.


Marhaban ya Ramadan. Mari menyambut bulan Ramadan penuh berkah dengan gembira dan memaksimalkan ibadah di bulan yang mulia ini.

Mohon maaf lahir dan batin untuk sahabat wordpress. Senang bisa berteman dan berkenalan dengan kalian di sini.

Untuk kamu yang pernah kecewa dan terluka jangan lupa memaafkan juga. Jangan ada lagi rasa dendam. Mari saling memaafkan agar tidak menodai kesakralan bulan Ramadan.

Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan. 🙂

Tak Berkategori

Komitmen Menyambut Bulan Ramadan

Tidak lama lagi, bulan suci umat Islam, Ramadan, akan datang. Tinggal hitungan hari, insyaAllah kita akan bersua dengan bulan mulia atau yang biasa kita kenal dengan istilah bulan puasa. Bulan puasa menjadi momen yang paling ditunggu oleh sebagian besar ummat Islam di dunia. Tidak terkecuali saya.

Untuk menyambutnya, biasanya kebanyakan orang sudah jauh-jauh hari mulai bingung memikirkan dan merencanakan banyak hal. Mulai dari menyusun jadwal buka bersama, mencicil membeli baju untuk lebaran (padahal puasa belum dilaluinya), hingga menyusun jadwal menu takjil yang akan dibuat untuk satu bulan ke depan.

Obrolan-obrolan mengenai beberapa hal di atas sudah mulai terdengar sejak kemarin di telinga saya. Baik di tempat kerja, grup organisasi, maupun di kos. Bahkan, mereka mulai bingung akan sholat tarawih di mana nantinya. Seperti biasanya, saya masih tetap tenang dan santai. Ya, setiap tahun saya tidak pernah ambil pusing mengenai apa yang harus saya persiapkan untuk menyambut bulan Ramadan. Bukan berarti tidak bahagia dan senang akan bertemu dengan bulan penuh ampunan tersebut. Masalah itu biarlah saya dan Tuhan saja yang tahu.

Menjelang bulan Ramadan, saya hanya cukup mempersiapkan apa yang memang seharusnya saya lakukan dan saya tingkatkan ditambah dengan sedikit support system dan komitmen. Apa saja? Berikut ulasannya.

Makan nasi setiap hari selama 1 bulan

Ini hanya komitmen saya untuk belajar dan membiasakan diri makan nasi sampai terbiasa setiap hari. Kenapa harus di bulan Ramadan? Karena saya merasa ini waktu yang tepat dan agar lebih mudah saja menghitungnya. Tahun lalu saya juga berkomitmen sama seperti ini. Tapi gagal saat libur tidak puasa saya kembali ke kebiasaan lama (lebih suka makan snack). Tahun ini saya ingin berhasil. Minimal setiap kali sahur saya usahakan untuk makan nasi. Apabila ini bisa berhasil selama satu bulan, maka ini akan menjadi sebuah pencapaian yang luar biasa bagi saya.

Tidur secara teratur dan cukup

Tidur memang menjadi masalah kedua bagi saya setelah makan (nasi). Saya terbiasa tidur malam dan bangun sangat pagi. Sehingga porsi tidur lebih banyak tidak proporsionalnya dari pada tidur cukup atau sehat. Saat puasapun tidak ada bedanya bagi saya. Kebanyakan orang saat puasa malah lebih suka banyak tidur jika tidak ada yang harus dilakukan. Tapi, itu tidak berlaku bagi saya. Tetap saja saya sulit untuk banyak tidur.

Ini baru pertama kali saya membuat komitmen tentang tidur. Selama puasa nanti saya akan berusaha tidur paling tidak 4 jam lamanya dalam sehari. Bahkan saya ingin mencoba membiaskan tidur siang selama bulan Ramadan.

Mengurangi acara buka bersama

Sebenarnya saya senang jika ada acara buka bersama. Karena biasanya acara tersebut merupakan ajang reuni dan silaturahmi dengan orang-orang terdekat kita. Tapi, ada satu hal yang tidak begitu saya suka dari acara buka bersama yaitu adanya kebiasaan mengesampingkan shalat tarawihnya. Ya, biasanya setelah buka bersama kita akan larut dalam obrolan dan candaan yang membuat kita lupa waktu dan tidak peduli dengan waktu shalat Isya dan tarawih. Meskipun saya yakin teman-teman atau saudara-saudara saya tidak akan meninggalkan sholat tarawihnya. Mereka pasti akan melakukannya sendiri di rumah.

Hanya saja, saya lebih suka shalat tarawih dilakukan setelah shalat Isya dan secara berjamaah di masjid, kecuali saat 10 malam terakhir. Saya suka menikmati suasana masjid menjelang shalat Isya dan tarawih. Berada di masjid saat bulan Ramadan membuat hati terasa lebih tentram dan bisa lebih fokus bermesraan dengan Sang Pencipta.

Tahun-tahun sebelumnya, bisa dikatakan saya hampir tidak pernah absen apabila ada undangan buka bersama. Bahkan, tahun lalu bisa dihitung saya buka di kos hanya 4 kali selama sebulan dan itu membuat saya beberapa kali harus absen shalat tarawih di masjid atau lebih sering keteteran menuju masjid. Karenanya nanti saya akan memilah-milah acara buka bersama yang mana yang akan saya ikuti. Pastinya yang dapat memastikan saya untuk tetap bisa shalat tarawih di masjid.

Tidak mengunggah foto makanan atau minuman

Sebenarnya saya cukup labil dalam hal ini. Saya terkadang mengunggah foto makanan di media sosial selama ini. Meskipun tidak sering, hal itu semata hanya untuk bantu mempromosikan resto atau warung makannya. Apalagi yang menurut saya makanan itu enak. Secara saya paling tidak ahli kan kalau masalah menilai rasa makanan. Nah, di bulan Ramadan nanti saya berkomitmen tidak lagi menggunggah foto makanan dan minuman. Saya mulai sadar itu semua nirmanfaat. Tidak mengandung kebaikan sama sekali. Apalagi di bulan Ramadan. Yang ada malam akan membuat orang lain yang melihat menjadi lapar mata.

Itulah keempat komitmen yang akan saya lakukan selama bulan puasa nanti selain amalan-amalan sunnah lainnya tentunya. Semoga saya berhasil. 🙂

Tak Berkategori

Molly, Si Jutek yang Manis

Molly, si pus berbulu putih lebat ini menjadi anggota keluarga kami sejak usianya 3 bulan. Nama Molly merupakan pemberian dari pemilik pertama sebelum akhirnya si pemilik pertama menyerahkan dengan ikhlas kepada adik saya. Dulunya, Molly terbiasa ikut si pemilik pertama ke kampus. Dari sanalah adik saya berkenalan dengan Molly dan jatuh hati. Eh, bukan. Dia tertarik untuk memilikinya. Gayung bersambut, melihat adik saya sangat perhatian kepada Molly, tanpa perlu adik saya mengutarakan isi hatinya, si pemilik pertama menyerahkan dan mempercayakan Molly untuk dirawat kami. Peka sekali teman perempuan adik saya itu.

Kehadiran Molly di rumah membuat warna kehidupan semakin indah. Lebih indah lagi saat Ibu kami sering mengomel apabila kami tidak teratur memberi makan dan membersihkan tempat pipis Molly. Molly menambah daftar yang saya rindukan ketika pulang ke rumah. Meskipun tampangnya jutek, ia kucing yang cukup ramah dengan setiap anggota keluarga kami. Bahkan, Molly cukup akur dengan kucing kampung peliharaan kami yang lain. Setiap kali kami berkumpul di ruang keluarga, Molly juga akan turut serta bersama kami. Dia menjadi pendengar yang baik saat kami bercerita. Sebagai bentuk cinta Molly ke kami, khususnya ke Bapak dan adik saya (yang membawa Molly ke rumah) ia tidak segan memijat-mijat Bapak dan adik dengan kakinya yang mungil.

Seperti kucing jenis Persia lainnya, Ia berbeda dengan kucing kampung. Ada makanan apapun yang tergeletak di meja makan tidak akan mempengaruhi indera penciuman Molly. Makanan (khususnya ikan) di atas meja makan tetap aman. Setidaknya itu yang membuat omelan Ibu sedikit banyak berkurang.

Sekarang, usia Molly lebih dari 3 tahun. Dia semakin tumbuh besar dan baik. Tidak ada kesulitan apapun selama lebih dari 3 tahun merawatnya. Hanya saja, Molly sesekali di waktu tertentu, nafsu makannya kurang baik dan dia kurang suka mandi. Wajar sih ini, soalnya kami juga kurang rutin memandikan Molly. Hihihi. Molly akan mandi jika adik saya (yang membawanya) pulang ke rumah atau membawanya ke tempat perawatan kucing untuk diperiksa kesehatannya serta dimandikan sekalian.

Molly selesai dimandikan oleh adik

Molly, menurut pengamatan saya, dia punya kebiasaan yang cukup berbeda dari kucing lain pada umumnya. Kebiasaan tersebut adalah:

Rajin ikut sholat

Ya, Molly sejak kecil terbiasa ikut kami sholat. Setiap kali menjelang maghrib, biasanya Ibu memanggil saya atau adik-adik yang masih di dalam kamar untuk segera ke ruang sholat yang ada di dalam rumah karena Bapak sudah menunggu. Nah, mendengar Ibu meneriaki kami untuk sholat, Molly yang berada entah di sudut rumah bagian mana selalu ikut lari terburu-buru menuju ruang sholat. Ketika sholat akan dimulai, dia ikut duduk di shaf perempuan di tengah-tengah saya dan Ibu sampai sholat selesai. Kami keluar dari ruang sholat, Molly pun ikut keluar dan melanjutkan aktivitasnya. Biasanya ini terjadi saat sholat Magrib, Isya, dan Subuh. Karena saat Dzuhur dan Ashar kami jarang sholat berjamaah di rumah karena kesibukan masing-masing.

Suka duduk di dekat jendela saat senja

Seperti foto di atas, itu adalah kebiasaan Molly menjelang Maghrib. Entah sejak kapan tepatnya, Molly selalu duduk di dekat jendela tiap kali menjelang Maghrib. Saya tidak tahu pasti apa alasannya. Mungkin saja dia juga menyukai langit senja. Hihihi

Suka tidur di atas tumpukan buku

Di rumah kami, ada beberapa titik favorit untuk menumpuk buku. Meskipun kami memiliki rak buku yang diletakkan di ruang sholat, Bapak dan saya punya kebiasaan meletakkan beberapa buku yang sedang kami baca di beberapa titik favorit agar mudah dijangkau. Entah itu di meja ruang keluarga, meja belajar di kamar, di meja komputer, dll. Ternyata tumpukan buku yang tersebar di beberapa tempat tersebut menjadi tempat favorit Molly untuk tidur siang atau sekedar bersantai. Molly selalu menghabiskan waktu santainya (pagi-sore) dengan merebahkan tubuhnya di atas tumpukan buku tersebut. Kadang-kadang saja dia berdiam diri di bawah motor atau mobil. Karena kebiasaan uniknya tersebut, kami tidak pernah kesulitan mencari Molly.

Suka baca (entah baca sungguhan atau tidak)

Ini kebiasaan Molly yang baru beberapa bulan terakhir ini. Dulu, ketika penghuni rumah membaca, Molly sekedar duduk di tengah-tengah dan menemani kami. Sekarang, saat ada ruang membaca, dia suka menganggu dan mengacau dengan lari ke pangkuan dan mengobrak-abrik buku sekitar seperti merengek minta dibukakan buku. Ketika ada yang mengerti, dan kami bukakan buku, Molly kembali duduk manis di dekat buku dan memandanginya sekian waktu. Kalau merasa sudah cukup, dia kembali tidur di atas buku yang sudah dibacanya. Semoga Molly jadi kucing yang cerdas karena rajin membaca. 😁

Mengerti jika dinasehati

Ini kelebihan Molly yang lain. Sejak kecil Molly mudah mengerti dengan apa yang kami ajarkan. Mulai dari kalau pipis di mana, tempat makannya di mana, dan kalau Maghrib tidak boleh keluar sekalipun pintu rumah terbuka. Itu semua dilakukan Molly dengan mudah. Yang membuat saya semakin bangga padanya, ketika saya pulang ke rumah beberapa hari yang lalu, Ibu dan Bapak bercerita bahwa Molly sempat absen tidak pernah ikut sholat berjamaah beberapa minggu yang lalu. Akhirnya Ibu ingatkan Molly dengan sedikit ngomel. Sorenya dia langsung kembali rajin ikut sholat. Manis sekali kan dia.

Dari kebiasaan-kebiasaan Molly di atas kerap kali membuat saya berfikir, jangan sampai saya kalah dari Molly. Dia rajin baca, peka, dan mudah memahami. Masa saya yang manusia mau kalah dengan Molly. 😅

Tak Berkategori

Akhirnya Bisa Balas Dendam Tidur!

Tidur memang sering menjadi permasalahan tersendiri bagi saya. Dari kecil paling tidak bisa disuruh tidur siang. Menjelang jadi mahasiswa tidur (malam) pun juga tidak bisa senyenyak teman-teman yang lainnya. Saya terbiasa tidur di atas pukul 11 malam baik ada tugas maupun tidak ada tugas. Selain itu, hampir di setiap pukul 00.00, pukul 01.00, sampai pukul 03.00 saya secara rutin terjaga dengan sendirinya. Karena itulah sejak saat itu saya tidak memerlukan alarm untuk bangun. Karena saya pasti akan terbangun pada pukul-pukul sekian dan tidak akan bisa tidur lagi hingga malam harinya. Karena itu juga saya tidak pernah keberatan jika ada kegiatan atau keperluan yang mengharuskan saya berangkat pagi.

Nah, satu minggu kemarin ini merupakan minggu yang sangat istimewa bagi saya. Karena membuat saya berhasil merindukan tidur. Aktivitas dan tanggungjawab yang datang bertubi-tubi berhasil melukiskan mata panda di wajah saya. Tapi, saya benar-benar menikmati setiap aktivitas selama satu minggu ini. Saya hanya mengiyakan saran dan nasehat dari beberapa orang yang peduli ketika melihat mata panda saya dan saya hanya mengaminkan setiap orang yang mendoakan semoga saya kuat menjalani berbagai aktivitas ini. Kenapa sampai ada saran dan doa? Mungkin ini memang berat bagi sebagian orang yang melihatnya. Hehehe

Baiklah, saya akan mulai menuliskannya secara berurutan.

Sabtu-Ahad

Minggu lalu, selama 2 hari yang kebetulan tidak ada kegiatan organisasi maupun pekerjaan saya gunakan untuk menyelesaikan naskah yang pada hari Ahadnya adalah tenggat waktu. Hari Jumat sebelumnya saya diskusi masalah proyek buku dengan teman-teman di salah satu warung kopi hingga pukul 11 malam dan baru bisa tidur sekitar pukul 2an. Sabtu pagi, saya awali aktivitas dengan membuka laptop sampai malam hingga pukul 11an. Dilanjut Ahad pagi sampai pukul 10an malam. 2 hari itu saya benar-benar fokus dengan menulis naskah yang hanya dijeda dengan mandi, sholat, makan. Dan akhirnya saya bisa menyelesaikan 3 naskah dalam waktu 2 hari tersebut.

Senin

Kebetulan tanggal 8-9 April saya libur kerja karena kelas 6 sedang ujian sekolah. Saya manfaatkan hari tersebut untuk jalan-jalan melepas penat ke Batu. Dari pukul 07.00, saya mampir ke sekolah terlebih dahulu karena ada rapat tentang jurnalistik sekolah. Pukul 08.00 selesai saya lanjutkan perjalanan ke Batu. Selama di Batu kami mengunjungi beberapa tempat sekaligus. Mulai dari Paralayang, Coklat Klasik Cafe, menelusuri kampung yang tanpa sengaja menemukan masjid yang unik dan khas, hingga perpustakaan amin yang menjadi akhir perjalanan.

Paralayang – Batu

Bersyukur cuaca pada hari tersebut sangat mendukung. Hujan baru turun ketika kami sudah khusyuk membaca di perpus amin menjelang Maghrib. Hari itu merupakan hari yang berkualitas menurut saya. Meski saya sempat memutuskan berusaha tidur sejenak di perpus amin karena tiba-tiba badan terasa payah. Apalagi suasana perpusnya sangat nyaman, membuat kami betah berlama-lama di sana.

Perpus amin dari luar

Hujan reda, kami pulang. Kembali menuju Kota Malang. Memasuki Kota Malang, hujan turun cukup lebat. Alhasil, kehujanan.

Selasa-Rabu

Sepulang dari Batu, saya tiba di kos pukul 8 malam. Setelah bebersih saya lanjutkan dengan berkemas persiapan menuju Kota Surabaya. Baru bisa tidur sekitar pukul 11 malam. Pagi pukul 05.00 saya bersama rombongan berangkat ke Surabaya. Keberangkatan saya ke kota Pahlawan adalah untuk mendampingi 3 siswa yang akan berjuang di lomba cerdas cermat tingkat provinsi. Tiba di Hotel Utami (lokasi lomba) kami langsung mengikuti pembukaan, lomba babak penyisihan, dan alhamdulillah lolos semi final sampai yang membuat siswa saya berjuang hingga pukul 10an malam.

Karena besoknya langsung final, Selasa malam saya masih sempatkan melatih siswa dan latihan yel-yel sampai pukul 11an. Begitu semua siswa tertidur di kamar masing-masing, ternyata saya yang tidak bisa tidur sampai pukul 01.00 Rabu dini hari. Padahal kamar hotel sangat nyaman. Tapi dasar sudah menjadi kebiasaan, saya baru bisa tidur sekitar pukul 2 dan bangun pukul 04.00 dilanjut menemani siswa berlatih tanya jawab soal sampai final dimulai hingga penutupan acara yang selesai pukul 2 siang.

Alhamdulillah meraih juara 3

Penutupan selesai, kami kembali ke Kota Malang dan tiba pukul 7 malam disertai hujan deras dan jalanan yang cukup macet.

Kamis

Kamis pagi pukul 6, saya bersama guru tim kelas 5 dan seluruh siswa kelas 5 pergi outbond ke Wisata Bakti Alam Pasuruan. Perjalanan dari Malang ke Kota Pasuruan memerlukan waktu sekitar 2 jam. Kami menggunakan 2 bus besar ditambah satu bus rombongan. Wali murid yang berinisiatif ikut mengawal. Di Bakti Alam, siswa akan mendapat pengalaman wisata bermain flying fox dkk dan edukasi tentang macam tanaman buah dan sayur yang membentang di area dengan luas puluhan hektar. Selain itu mereka juga praktek langsung menanam padi di sawah.

Bukan promosi ya, tapi, sungguh. Wisata di sini benar-benar asyik. Selama berkeliling kebun kami akan diantar menggunakan bus mini tanpa kaca dan traktor wisata. Walaupun hujan seperti yang kami alami kemarin, tidak akan menghambat kegiatan. Semua kegiatan berjalan lancar bahkan sampai lupa waktu karena anak-anak keasyikan renang di akhir kegiatan.

Pukul 7 malam kami baru sampai sekolah. Lagi-lagi, karena macet jadi perjalanan pulang memerlukan waktu lebih lama.

Jumat-Sabtu

Pulang dari Kita Pasuruan, saya lanjutkan dengan berkemas persiapan berkemah hari Jumat-Sabtu. Masih sama, saya akan berkemah dengan siswa kelas 5. Karena sebelumnya waktu saya hanya tersita di kegiatan lapang, selesai berkemas saya lanjutkan menulis naskah tambahan sampai pukul 12 malam. Jumat pagi, saya ke sekolah karena masih ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan dengan kepala sekolah dan tim kelas. Setelah sholat Jumat, saya dan anak-anak berangkat menuju dusu wisata Sahabat Alam yang berada di Batu.

Acara perkemahan Jumat-Sabtu (perjusa) dimulai. Serangkaian acara berjalan hingga malam. Begitu seluruh peserta tidur, kami panitia masih koordinasi untuk melanjutkan acara di esok harinya. Koordinasi selesai sampai pukul 00.00. Selama waktu tidur, kami panitia seringkali terbangun lantaran mendengar anak-anak yang terbangun di tenda karena digigit semut. Tempat berkemah kali ini sebenarnya sangat nyaman dan jauh dari kesan sederhana. Bukan hutan, tenda dan alas tenda sudah modern (alasnya terbuat dari semen dan agak tinggi) aman dari becek dan bocor.

Pukul 03.00 kegiatan kembali di mulai. Diawali dengan sholat malam hingga upacara penutupan di siang harinya. Kami tiba di sekolah menjelang ashar.

Tuntas sudah segala aktivitas yang menguras energi minggu ini. Sampai di kos, setelah bersih diri. Saya sempat tertidur selama 15 menit di depan tv. Malam harinya setelah isya mata saya benar-benar tidak bisa dikondisikan lagi. Saya tertidur sampai pukul 5 pagi. Akhirnya saya bisa balas dendam untuk tidur nyenyak semalam. Ini sekaligus menjadi rekor saya. Tidur tanpa terjaga sama sekali dan bangun sampai pukul 5 pagi.

Lalu, Ahad hari ini bagaimana? Saya isi dengan memenuhi janji pada beberapa teman yang sudah saya abaikan selama satu minggu ini. Saya ada rapat dengan teman-teman organisasi, personal, dan nanti malam saya akan lanjutkan menulis naskah.

Tidak capai?

Pertanyaan seperti itu sering kali terlontar dari teman-teman, ibu kos, dan Ibu Bapak di rumah. Tidak. Saya senang dan menikmati setiap apa yang saya lakukan. Mengeluh bukan solusi bagi saya. Mengeluh justru membuat saya akan merasa capai.