Diposkan pada Tak Berkategori

Dua Sisi Langit

Langit pagi di Universitas Muhammadiyah Malang

Saya adalah pengagum langit. Buat saya langit punya sisi religius sekaligus romantis pada saat bersamaan.

Kenapa religius? Karena mungkin dengan ilmu keagamaan saya yang saat ini masih sedikit, bagi saya langit adalah bukti nyata Tuhan itu ‘Maha’. Dengan goresan tangannNya, Dia memberi ‘warna’ di kanvas luas yang Dia punya.

Kenapa romantis? Lihat! Dia yang memberi tanpa menuntut rasa kagum. Pernah mendapati pasangan yang hanya mencinta tanpa menuntut dicinta (balik)? Kurang romantis apa coba Tuhan. Masih terlalu jauh standar romantis kita dibanding lukisan langit yang Dia beri sebagai candu mata-mata yang jenuh dengan segala rutinitas hariannya.

Well, bukannya langit pagi, siang, atau sore dan bahkan langit malam punya keindahannya masing masing?

Saya setuju. Jika diminta memilih, mana yang paling disuka? Saya seperti kebanyakan orang mungkin. Akan memilih senja. Kenapa senja yang saya pilih dibanding langit pagi ataupun langit malam? Karena bagi saya senja itu perenungan. Ada orang yang pernah bilang, “orang-orang terlalu penuh optimis melihat langit pagi, penuh harapan, penuh keyakinan, tapi bagaimana kabar si harapan pagi itu setelah sehari berlalu, setelah senja datang dan langit mulai gelap, rasa sesal kah?” Karna mungkin yang terjadi tidak sesuai harapan yang bergemuruh hebat saat pagi, atau rasa syukur kah? karena apapun yang terjadi, hari ini adalah hari ini, esok masih punya sisi misteriusnya yang diawali dengan ditutupnya hari ini.

Menurut saya semua itu hanya soal perspektif tentang mengolah harapan menjadi rasa syukur dan semua itu hanya bisa terukur di saat senja memberi tanda, bahwa hari ini akan segera berakhir. Semoga kita punya mata yang cukup romantis untuk melihat sisi romantis Tuhan yang satu ini.

Jika kamu dan saya sepaham soal langit di atas, kita pasti sepaham dengan hidup ini singkat. Terlalu singkat bahkan untuk tidak dinikmati dengan penuh rasa syukur sebesar-besarnya kepada Sang Maha segala-galanya. Dan rasa ini harus kita bagikan untuk manusia-manusia lain yang butuh atau sedang memegang asa. Bukan untuk mengajari mereka. Tetapi lebih ke menginspirasi. Sama seperti saya yang saat ini masih butuh dan juga sedang memegang asa. Masih butuh inspirasi untuk terus menginspirasi.

Diposkan pada Tak Berkategori

Pribadi Bermanfaat

Sejak dari jaman SMA bahkan sampai hari ini, sering kali saya mendapat pertanyaan seperti ini, “mengapa memilih untuk menambahkan  kesibukan dengan beroganisasi? Apa yang sebenarnya ingin dicapai?” Bahkan, pernah ada, seorang teman yang juga aktivis bertanya, “apa sebenarnya keresahan yang dialami aktivis dalam dirinya?”.

Dulu, terlepas pada dasarnya saya adalah tipe orang yang tidak suka berdiam diri saja, berbagai alasan pernah menjadi jawaban andalan jika mendapat pertanyaan demikian. Mulai dari ingin terlihat keren, ingin punya kesibukan positif, pernah juga menjawab dengan tanpa pikir panjang ingin mendapat gebetan (serius ini), pernah juga sampai pada titik terlama setia dengan jawaban ingin belajar, menambah pengalaman dan menjadi pribadi bermanfaat.

Berbicara pribadi bermanfaat, justru muncul pertanyaan baru. Seperti apa pribadi bermanfaat yang dimaksud?dan kapan kita merasa sudah bermanfaat untuk orang lain?

Dan ternyata saya dulu pernah beranggapan menjadi pribadi bermanfaat yaitu dengan membantu orang lain dan dengan berorganisasi itulah semua bisa dilakukan dengan mudah. Selain itu, yang menjadi keresahan aktivis itu sendiri adalah merasa waktunya terbuang sia-sia jika ternyata pada hari tersebut belum membantu banyak orang atau sekedar tidak adanya kegiatan di akhir pekan.

Semakin ke sini, semakin saya sadari. Mengartikan pribadi bermanfaat tidak selalu harus berkaitan dengan orang lain. Bermanfaat tidak selalu secara instan atau dengan mengikuti organisasi.

Banyak hal yang bisa dilakukan untuk menjadi pribadi yang bermanfaat. Contohnya bisa jadi seperti mengurangi dari kegiatan yang padat dengan tujuan mencapai target tertentu dan bisa memberikan dampak lebih besar baik itu ke diri sendiri ataupun orang lain. Seperti fokus untuk menulis hingga menerbitkan buku. Fokus pada menghafal Al-Qur’an hingga selesai. Fokus untuk mempelajari beberapa ilmu penting, dan lain sebagainya.

Fokus pada satu atau dua  organisasi apa tidak boleh? Tentu saja boleh. Asalkan dengan niat bukan hanya membantu orang lain atau agar terlihat sibuk. Tapi untuk mencapai tujuan bersama yang akan memberikan maslahat untuk banyak orang.

Memaknai Pribadi Bermanfaat secara lebih dalam tentu harus melalui perenungan yang sungguh-sungguh. Dengan begitua, menjadi pribadi bermanfaay tidak sekedar lelah, tapi juga produktif untuk diri sendiri maupun banyak orang.

Diposkan pada Tak Berkategori

Pekerjaan Kita

Pekerjaan itu sejatinya tidak diukur pada seberapa besar angka yang dihasilkan, tapi pada manfaat, nilai, dan keberkahan apa yang bisa didapat dan timbul dari pekerjaan itu. Andai semua orang mengejar gaji ratusan juta per bulan, kita mungkin akan kehilangan guru-guru di sekolah. Kita kehilangan pengajar di pelosok-pelosok daerah. Kita kehilangan tenaga-tenaga medis yang bekerja untuk kesehatan orang lain tapi mengabaikan kesehatan dirinya sendiri.

Kita juga akan kehilangan orang-orang yang mewakafkan dirinya pada jalan dakwah, yang mengajarkan nilai-nilai agama di kampung-kampung. Juga kepada anak-anak kita di tengah ambisi para orang tua yang ingin anak-anaknya menjadi penghafal diusia belia. 

Pekerjaan itu, andai kita benar-benar memahami apa yang timbul darinya. Ukuran kita tidak lagi uang, saat kita bekerja bukan karena butuh uangnya. Tapi kita tahu, kita bekerja karena kita ingin menjadi bermanfaat.

Saat kita bekerja bukan karena tuntutan kebutuhan hidup, bukan karena tekanan sosial dan keluarga, bukan karena kita ingin memiliki harta sebanyak-banyaknya. Tapi karena kita tahu, ada pahala yang besar dari pekerjaan yang akan kita tekuni sejak hari ini sampai tua nanti.

Apaan sih, Ta? Lama tidak menulis pembahasannya langsung serius begini? Maafkan hehehe. Ini semua karena sampai saat ini, saya masih sering mendapat pertanyaan dan pernyataan yang seharusnya tidak perlu disampaikan lagi.
“Kamu kerjaannya guru ya? Enak kah ngajar anak SD?”, “Kamu kok jadi guru sih. Kamu itu begini, pantesnya jadi dosen lho atau bla… bla… bla…”.

OK, pertanyaan atau pernyataan semacam itu masih enak didengar. Bahkan bisa jadi motivasi. Tapi, sering juga mendapat pertanyaan atau pernyataan yang kurang enak dicerna oleh ternggorokan, eh telinga sih. “oh… guru ya? Bisa hidup di rantau dengan gaji guru yang segitu?” Atau “kenapa memilih jadi guru? Guru kan gajinya kecil”. Nah lho, tidak enak kan kalau dengar kalimat seperti itu. Tenggorokan tetiba menjadi sulit nelan dan tetiba juga ingin makan si penanya itu tadi. Loh?

Ya, begitu adanya yang sering terjadi. Kadang jadi mikir sendiri, mereka maunya apa sih dengan bertanya seperti itu. Kita yang menjalani apa yang menjadi pilihan kita saja nyaman dan bahagia. Terus kenapa mereka masih meragukan apa yang telah kita pilih dan kita jalani.

Bukankah kita memiliki kesempatan untuk memilih dan menikmati apa yang kita kerjakan, apa yang kita perjuangkan, dan memilih hal-hal baik bagi diri kita? Hidup ini memang tidak pernah mudah. Tapi, jangan biarkan omongan orang lain menjadi beban dan ‘merampas’ kebahagian kita. Sepakat?

Diposkan pada Catatan Khusus

Dia yang Spesial (1)

Dia pendiam, dia selalu menyendiri, dan terkedang terlihat ketakutan saat bertemu dengan banyak orang.  Tapi, tatapannya selalu meneduhkan. Itulah kesan pertama saya bertemu dengannya. Kapan tepatnya, saya lupa. Mungkin sekitar 2 tahunan yang lalu. Orang mengatakan dia berbeda dengan yang lainnya. Dan ini semakin membuat saya menaruh perhatian lebih padanya.  Setiap hari kami berada di tempat sama, tapi tidak setiap hari juga kami bertemu. Di setiap pertemuan kami, seringkali diam-diam saya mengamatinya dengan serius. Kemudian, dia berlalu begitu saja diingatan saya. Ya, begitu seterusnya hingga 2 tahunan berlalu. Kami tidak pernah bertegur sapa.

Pertengahan tahun 2019, jalan takdir kami bersinggungan. Takdir mengantarkan kami menuju rangkaian kehidupan yang berbeda. Kami dipertemukan untuk setiap hari dan mengenalnya  lebih dekat. Dengan pertemuan ini, saya merasa lebih berhak mengetahui dengan pasti siapa dan bagaiamana dia. Berbagai informasi saya dapatkan. Memang ada beberapa informasi yang simpang siur, tapi ini semakin mempermudah untuk menarik benang merahnya; dia spesial.

Bintang (bukan nama sebenarnya), namanya. Ia mendapat stereotip sebagai Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).  Menurut hasil tes, Ia dikategorikan sebagai anak autis namun tidak hiperaktif. Saat ini, Bintang duduk di kelas 5. Ia menjadi anak didik saya sejak pertengahan tahun 2019 lalu. Ini pengalaman pertama saya mendapatkan peserta didik spesial selama menjadi guru. Meskipun sebelumnya saya tidak asing lagi dengan anak-anak berkebutuhan khusus. Selain saat kuliah dulu ada mata kuliah tentang ABK, sekolah tempat saya mengajar merupakan sekolah inklusi. Yang mana, sekolah kami memang menerima peserta didik dengan berbagai kebutuhan khusus. Sekolah kami juga menyediakan beberapa Guru Pendamping Khusus (GPK) untuk anak-anak spesial tersebut. Sekolah kami juga mengizinkan peserta didik yang akan memakai shadow (pendamping anak spesial yang masih kurang mandiri).

Sama seperti awal saya bertemu Anas, Ia pendiam, tidak akan berbicara jika tidak ditanya. Awalnya, cukup sulit berkomunikasi dengannya. Karena Ia tidak akan dengan mudah menjawab semua pertanyaan. Sesekali saya melihatnya seperti berbicara sendiri di kelas. Bahkan, saat saya mengajar, Ia beberapa kali kedapatan asik berbicara sendiri dengan suara yang lirih dan kurang jelas (artikulasinya). Bintang tidak suka kegaduhan. Ia sangat tertib, rapi, bersih, disiplin, taat, dan sangat patuh kepada semua guru. Sekali mendapat tugas, Ia akan berusaha  fokus menyelesaikan tugasnya dengan kemampuan terbaiknya, waktunya sholat, istirahat, pindah kelas, Bintang akan menjadi peserta didik pertama yang bergerak.

Uniknya lagi, Bintang tidak bisa makan nasi. Bahkan, Ia sangat takut melihat nasi. Pernah ia menangis di kelas karena dipaksa memasukkan nasi ke dalam tasnya oleh teman-temannya. Waktu itu, ada yang syukuran dan membagikan nasi. Punya Bintang pasti tidak termakan dan teman-temannya berinisiatif meminta Bintang memasukkannya ke dalam tas agar bisa dibawa pulang. Tapi, Ia malah menangis. Tentu, hal ini mengingatkan pada saya sendiri yang juga sempat tidak mau makan nasi sejak kecil. OK, Bintang. Kita memiliki kesamaan yang unik bagi  sebagian banyak orang. Tos dulu!

Berbicara teman-teman Bintang, tenang saja. Bersyukur, sebanyak 680an peserta didik di sekolah kami sudah terbiasa hidup dengan keberagaman. Khususnya dalam menyikapi anak-anak spesial. Mereka tidak menghina, mengucilkan, atau membeda-bedakan. Justru, tanpa perintah atau teguran, mereka akan membantu anak-anak spesial tersebut dalam berbagai hal. Sekedar untuk mengarahkan jalan bagi temannya yang memiliki daya keseimbangan dan pandangan yang kurang. Meredamkan temannya yang hiperkatif dan meracau, dll.

Sejak harus mendidik Bintang, di awal, sempat merasa ilmu kuliah tentang ABK yang hanya 8 SKS sangat kurang. Saya sempat bingung harus melakukan apa dan bagaimana untuk membuatnya nyaman dan bisa bergabung dengan teman-temannya di kelas. Beruntung, partner kelas saya di kelas 5 ini merupakan pendamping wali kelas Bintang saat di kelas 4. Selain sebelumnya berkomunikasi dengan GPK yang selama ini mendampingi Anas, hampir setiap hari di awal semester, saya bertanya kepada partner kelas terkait capaian akademik Bintang selama di kelas 4. Hal ini untuk menyesuaikan materi atau kegiatan  yang tepat untuknya selama di kelas 5.

Diposkan pada Tak Berkategori

Rumah

Sumber; pinterest

Setelah berkeliling kebeberapa tempat yang menakjubkan, melihat lebih dekat keindahan ciptaaan Tuhan dan mengarungi perjalanan panjang dari sebuah pencarian. Tentu saja destinasi yang paling dirindukan selanjutnya adalah rumah.

Perjalanan ini memupuk harapan untuk ketika nantinya pulang kata berjuang menjadi pembeda dari kita yang sebelumnya. Dan rumah adalah tempat dimana cerita yang kita bawa menjadi sebuah benda berharga.

Di sanalah kenyamanan itu menetap. Meskipun rumah bukanlah istana, tidak ada singgasana disana apalagi kemewahan di dalamnya. Karna memang kebahagiaan itu tumbuh dari hal-hal kesederhanaan yang kita syukuri bukan dari kemegahan dunia yang terus saja kita cari.

Rumah menjadi alasan untuk terus berjuang, utamanya demi mereka yang telah lebih dulu berjuang. Rumah adalah tempat kembali menata mimpi dan merapihkan lagi kenangan yang berserakan disana-sini. Rumah itu istimewa, maka ada yang salah kalau saja kita tidak pernah merindukannya.

Rumah ada satu-satunya alasan untuk kembali. Kembali memupuk semangat dan kembali merasakan hangat dari mereka yang benar-benar percaya bahwa mimpi kita lebih luas dari apa saja. Namun yang ingin aku sampaikan bahwa bukan sekedar rumahnya yang membuat istimewa, tapi orang-orang yang tinggal dan menetap didalamnya yang membuat istimewa.

Diposkan pada Tak Berkategori

NKCTHI, Cerita Keluarga Sarat Emosi

Sumber: Instagram @filmnkcthi

Memeriahkan awal tahun, film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini atau yang biasa disingkat NKCTHI turut memeriahkan Januari kita. Tayang, Kamis, 2 Januari 2020, film ini diadaptasi dari buku laris karya Marchella FP dengan judul yang sama.

Pemainnya pun tidak asing lagi di mata kita, ada Rachel Amanda, Rio Dewanto, Sheila Dara, Donny Damara, Susan Bachtiar, dan Ardhito Pramono yang merupakan seorang musisi.

Bagi yang belum pernah membaca novel NKCTHI, mungkin pada awalnya penonton akan dibuat bingung dengan alur film ini. Ya, film ini ternyata memiliki alur maju mundur-maju mundur. Tapi tenang walau tanpa penjelasan latar waktu, kita akan dibuat mengerti pada akhirnya. Hebatnya lagi, meskipun berbeda waktu, tapi film ini mampu menyambungkan dengan konflik yang sama.

Film ini menurut saya sangat layak ditonton oleh kalangan remaja hingga orang tua. Karena konflik dalam film NKCTHI ini sangat dekat dengan kehidupan kita dan sebagian orang pasti pernah merasa mengalaminya. Saat merasa dikekang orangtua atau hingga tidak punya pilihan hidup karena terbiasa diatur oleh orang tua. Remaja sekali kan?

Namun, konflik yang dekat dengan kebanyakan orang dan konflik sehari-hari yang sederhana ini justru mampu mengundang banyak tanya dari penonton, sebenarnya ada apa di balik semuanya? Nah, saat konflik sebenarnya telah memuncak maka saat itu emosi kita akan pecah dan membuat pertanyaan-pertanyaan soal adegan film akhirnya terjawab. Rahasia yang disimpan perlahan terkuak.

Bahkan, tidak sedikit penonton film ini menangis saking terharunya. Saran saya, saat nonton harus siapkan tisu. Jangan sampai lupa.

Memangnya cerita tentang apa sih film NKCTHI? Film ini menceritakan sudut pandang tiga anak keluarga Narendra: Angkasa, Aurora, dan Awan. Mereka terlihat sebagai keluarga yang baik-baik saja tapi ternyata punya trauma yang ditutupi oleh sang ayah demi membuat para anggota keluarga bahagia.

Angkasa yang harus menyimpan rahasia selama 21 tahun. Aurora yang kemudian ingin ‘memberontak’ karena dianggap tak pernah ada. Awan, anak bontot yang selalu diistimewakan Ayahnya dan menjadi tanggung jawab semua keluarga. Namun, ada satu yang menjadi penengah. Ialah sang Ibu. Tempat di mana semua, menyandarkan kepala di bahunya. Menangis sekecang-kencangnya meluapkan segalanya. Meluapkan, menangiskan dan menyandarkan sebuah rahasia besar yang selama ini terjadi di keluarga Narendra.

Bisa jadi cerita film NKCTHI mengajak kita untuk merenungi kehidupan masing-masing. Terutama soal keluarga yang kadang memiliki cara berbeda untuk memberikan kasih sayangnya.

Dasar cerita film ini pun sudah menggiring penonton pada konflik dan masa-masa sulit sebuah keluarga. Dibiarkan datar, naik, dan kemudian diturunkan lagi. Sampai pada akhirnya kita dihentakkan kembali pada sebuah emosi yang dipajang di dalam ceritanya.

“Kalian Sudah Lama Kehilangan Aku”

Satu kalimat sederhana ini keluar dari mulut Aurora. Membuat emosi penonton kemudian benar-benar diremuk-redamkan. Dibiarkan diam. Ya, di film ini kisah Aurora memang paling mengena.

Film NKCTHI ini memang berbeda dari yang lain. Para pemeran mendapatkan scene dengan porsi yang sama. Hingga para cameo yang bermain seperti, Umay Shahab, Sivia Azizah, hingga Chicco Jerikho juga mendapat porsi scene yang sama. Karena itulah kita tidak akan bosan dengan cerita kakak beradik, Angkasa, Aurora, dan Awan ini.

Di sisi lain, menurut saya film ini mencoba menyampaikan kritik terhadap pola didik kebanyakan orang tua di Indonesia. Bukan rahasia kalau orang-orang Indonesia punya obsesi yang begitu besar ke anak-anaknya. Mereka sering fokus memenuhi kebutuhan fisik anak seperti sekolah, pakaian bagus, fasilitas belajar, sampai pengembangan bakat tanpa memperhatikan dan mendengarkan pendapat anak.

Sehingga layak jika film NKCTHI menjadi film yang menghangatkan hati bagi siapa pun yang menontonnya.

Diposkan pada Tak Berkategori

Catatan Singkat Akhir Tahun

Saya tidak pernah tertarik merayakan pergantian tahun. Gemerlap kembang api yang menghiasi langit malam, suara tiupan terompet dari kejahuan, dan aroma jagung atau daging yang dipanggang. Setiap tahun orang-orang melakukan hal yang sama. Di akhir tahun, sebagian besar orang sibuk membuat daftar resolusi.

Mungkin berbeda dari kebanyakan orang, saya adalah salah satu orang yang tidak bisa membuat daftar resolusi. Berarti saya tidak punya tujuan hidup dong? Berarti kamu termasuk orang yang tidak bisa punya mimpi besar dong? Ya tidak begitu juga dong hehee. Saya bukan tipe orang yang bisa berangan-angan. Saya bisa membuat suatu ide ketika ada penekanan di hari itu juga. Baik tekanan dari diri sendiri atau orang lain.

Pergantian tahun menurut saya adalah tentang mematangkan dan meneruskan perjuangan. Kita akan melewati kebiasaan-kebiasaan yang sama, monoton, yang itu-itu lagi, dan terkadang cenderung membosankan. Maka dari itu, kita perlu formula lain untuk tetap ikhlas dalam menjalaninya. Kita akan melewati jalanan yang sama, kemacetan yang sama, pergi dan pulang di jam sama. Lantas kita harus menyerah? Tidak. Kita harus lebih kuat, karna boleh jadi akan ada ujian yang tak sama dari tahun sebelumnya.

Tahun baru adalah momen mematangkan. Sikap, tutur kata, pola pikir, emosi, penyelesaian masalah, dan hal-hal lain yang belum kita gali dalam diri. Bukan lagi lari dari tanggung jawab, tapi bertanggung jawab atas apa yang diperbuat. Bukan lagi menyalahkan diri apalagi sekitar, tapi menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Bukan lagi besarnya pendapatan, tapi belajar menyisihkan dan memberi. Bukan lagi memang aku siapa?, tapi apa yang bisa kita coba lakukan. Bukan lagi marah-marah, tapi datang dan berserah pada-Nya. Bukan lagi tahun menakutkan saat ditanya “kapan”. Tapi takutlah karena kita tidak punya bekal. Ada banyak hal positif yang masih belum kita bangunkan dalam diri, ia masih tidur, belum mati.

Tuhan sudah terlalu baik memberikan kesehatan dan waktu. Kesempatan yang datang dalam karir kehidupan, pengalaman pembelajaran yang menumbuhkan, pengalaman hidup baik dan kurang baik, menyesakkan dan melegakan, sedih dan bahagia yang beriringan, kemarau dan hujan, nafas yang tiap detik masih berjalan, keluarga dan teman yang baik hingga kurang baik dan anugerah lainnya yang diyakini takkan pernah mampu menghitungnya bahkan menuliskannya satu demi satu.

Punya resolusi atau tidak menurut saya bukan hal yang signifikan. Yang penting menurut saya adalah seberapa besar usaha kita untuk memberikan kontribusi dalam hidup yang berdampak baik bagi diri sendiri dan juga orang lain. Tahun baru bukan lagi tahun merencanakan, tapi mewujudkan. Mari, melangkah maju. Menatap samarnya masa depan dengan membawa satu baris kalimat harapan yang klise yaitu menjadi seseorang yang lebih baik.