Tak Berkategori

Kapok Ke Jogja? (2)

Hari kedua, tujuan wisata berikutnya diawali dengan berkunjungan ke Keraton. Bus kami parkir di area parkir Senopati. Yaaa… saya harus berjalan jauh lagi menggiring anak-anak menuju Keraton. Melewati ruas jalan menuju Keraton rasanya saya ingin berhenti sejenak, bernostalgia di kursi-kursi yang berjajar cantik di sana. Tapi, keburu saya disadarkan bahwa saya membawa anak-anak dan pagi itu terasa panas sekali. Saya lanjut ke Keraton. Selama menemani anak-anak berfoto dan mendengarkan penjelasan dari petugas Keraton saya, sempatkan menyapa salah satu abdi dalem di sana. Saya selalu suka berinteraksi dan bercengkrama dengan masyarakat Jogja. Saya suka keramahan, kehangatan, dan ketulusan mereka.

Saat akan kembali ke parkiran, keluar dari pintu gerbang Keraton, gerimis mengintai kami tiba-tiba. Beberapa anak mulai berlarian ingin segera sampai bus. Saya dan beberapa guru tentu spontan mengejar mereka. mengingat jalanan cukup ramai dan mereka harus menyeberang. Sambil berlari saya mengomel sendiri, rekreasi kali ini luar biasa. Selalu dibumbui lari dan kehujanan. Dan ini lari dari Keraton ke parkiran Senopati. Jauuuuh…. rasanya napas sudah mau habis. Saya meminta anak-anak berhenti sebentar di depan gedung cagar budaya Bank Indonesia. Gerimis mulai berhenti. Saya sempatkan mengambil beberapa foto.

Kami melanjutkan perjalanan ke rumah makan untuk makan siang dan sholat. Setelah itu kami menuju pabrik kaos Jogja T-Shirt yang terletak di Sleman. Sepanjang perjalanan, kembali kami diiringi hujan. Tiba di tempat, anak-anak dipandu untuk mengamati proses pembuatan kaos secara manual. Kemudian mereka berbelanja kaos juga di sana. Saya terkagum dengan pabrik kaos tersebut. Proses pembuatan yang manual, motif kaos yang sangat khas dan benar-benar menjaga kelestarian budaya Jawa, Jogja khususnya, pelayanannya juga sangat baik. Kunjungan selesai kami tidak bisa langsung pulang. Karena hujan yang begitu deras dan area parkir lumayan jauh dari pabrik. Agak reda kami baru diperbolehkan menuju bus dan melajutkan perjalanan ke bakpia pathok.

Kejadian tidak menyenangkan

Selesai berbelanja makanan oleh-oleh khas Jogja tersebut, kami menuju destinasi terakhir. Yaitu Malioboro. Kami kembali ke parkiran senopati. Sesuai hasil koordinasi dengan guru-guru lewat grup whats apps kami akan menuju Malioboro menggunakan becak motor (bentor). Begitu turun dari bus, kami langsung dikerumuni tukang bentor yang saling berlomba menawarkan harga. Saya sebelumnya tidak pernah naik bentor menuju Malioboro. Mendengar tawaran harga yang sesuai, saya beberapa teman guru langsung sepakat naik bentor. Saya menggiring tiga anak yang menjadi tanggung jawab saya ke salah satu bentor. Satu bentor berisi tiga orang, jadi saya harus pisah dengan mereka. Saya menaiki bentor yang lain bersama seorang teman, Bu Louis dan seorang siswa. Siswa Bu Louis di bentor lainnya. Saya meminta kepada tiga supir bentor tersebut agar berjalan beriringan dan jangan sampai terpisah.

Belum jauh dari parkir senopati, saya tidak melihat bentor yang dikendarai siswa saya. Saya panik dan meminta supir bentor berhenti dulu, tapi yang terjadi bentor saya mogok. Saya lihat bentor siswa Bu Louis mengikuti di belakang bentor saya. Setelah bisa nyala lagi mesin bentornya, saya tanya siswa saya yang di belakang mana? si bapak malah menjawab biasanya di antar ke Malioboro yang pusat kaos dekat Keraron. Saya dan Bu Louis terkejut mendengarnya. Saya takut terjadi apa-apa dengan mereka. sementara ponsel pintar mereka dititipkan di saya. Bagiamana kalau mereka tersesat, sementara Malioboro begitu luas. Belum selesai panik, saya merasa jalan yang saya lalui berbeda. Saya tanya ke si bapak, “kok jalannya ke arah sini, maliboro kan sana” bapaknya menjawab, “ouh kalo kesana beda jalur, bukan lewat sini. Jadi harus muter dan nambah bayar lagi menjadi 20ribu”. Bu Louis langsung menegur si bapak karena tidak sesuai dengan kesepakatan awal.

Saya tidak mau ambil pusing, saya mengiyakan yang terpenting saya sampai dan bisa segera mencari siswa saya yang entah di mana. begitu sampai di depan Hamzah Batik (dulu dikenal Mirota) saya langsung menghubungi beberapa guru, siapa tahu ada yang melihat siswa saya. Beberapa guru menjawab tidak tahu, saya semakin pucat dan panik. Saya tidak ada niat lagi untuk berbelanja. Di ruas jalan tempat saya dan bu Louis duduk mencari keberadaan siswa saya, kami bertemu beberapa wali murid dan menceritakan kejadian. Sementara wali murid juga bercerita kalau ditipu oleh tukang bentor karena harga tidak sesuai kesepakatan dan diputer-puter keliling jalanan. Berkat saling bercerita, saya sedikit mendapat informasi tentang siswa saya. Kepanikan kami mulai reda. Ditambah salah satu wali murid datang dan mengatakan siswa saya sedang menuju Batik Hamzah bersama anaknya.

Beberapa menit menunggu ditemani cerita beberapa wali murid dan beberapa guru yang berkumpul di tempat saya menunggu, menambah kejengkelan saya pada tukang bentor di sana. Tega-teganya mereka menipu masalah harga dan parahnya berani memisahkan anak-anak kecil dari rombongan. Jogja itu ramai apalagi saat malam. Bagaiamana kalau anak-anak tersesat dan tidak tahu harus apa dan bagaimana. Mencari orang di keramaian seperti Jogja, membayangkannya saja membuat saya lemas. Lamunan saya buyar ketika dua siswa yang lain datang dan bercerita ke kerumunan guru dan wali murid. Mereka bercerita terpisah dari rombongan karena bapak bentornya tidak mau beriringan. Mereka diputar-putar dan ditarik ongkos lebih dari kesepakatan. Astagfirullah… kejadian ini tidak hanya terjadi pada siswa saya ternyata. Untungnya anak ini tegas dan memaksa ikut rombongan yang ia temui di jalan sehingga membawa mereka berhenti di Hamzah Batik.

Saya semakin khawatir dengan siswa saya yang belum juga datang. Beberapa guru yang lain berdatangan dan membawa cerita yang sejenis. Saya melihat beberapa rombongan becak anak-anak. Saya langsung berlari menghampiri dan menyetop semuanya. Saya melihat tiga siswa saya dan langsung memeluk mereka. Beberapa wali murid dan guru juga megikuti. Beberapa wali murid mencela tukang bentor tersebut saking jengkelnya. Kami semua lega dan cukup haru. Salah satu guru yang ada di rombongan becak tadi mengatakan dia melihat beberapa becak yang berisi anak-anak tanpa pendampingnya, akhirnya ia ajak semua. Senang dan jengkel bercampur. Namun, lebih banyak bersyukur karena akhirnya semua siswa dapat ditamukan. Tapi kami tidak mau berlarut-larut untuk mejaga psikis anak. Kami segera mengiringi mereka berbelanja. Pulangnya menuju parkiran kami semua trauma menggunakan bentor. Kami menggunakan grab car semua. Berbondong-bondong memesan grab car biar mahal tapi aman.

Dari kejadian ini saya rasanya cukup trauma dan tidak habis pikir dengan para tukang bentor di sana. Bagaimana mereka bisa melakukannya semua demi meraup keuntungan. Mereka akan merusak citra Jogja yang aman dan ramah. Semoga kejadian seperti ini tidak terulang lagi pada siapapun. Semoga tulisan saya bermanfaat untuk yang belum pernah pengalaman naik bentor di Jogja. Semoga para tukang bentor tersebut memperbaiki segalanya. Kejadian ini memang membuat saya kapok dan trauma. Tapi, saya tidak akan kapok berknjung ke Jogja lagi. Bagi saya Jogja adalah kota yang sangat sitmewa dan selalu dirindukan.

Iklan
Tak Berkategori

Kapok Ke Jogja? (1)

Untuk kesekian kalinya saya kembali ke kota istimewa Yogyakarta (selanjutnya saya sebut Jogja). Perjalanan saya kali ini sangat berbeda dengan kunjungan-kungjungan sebelumnya. Jika kunjungan sebelumnya dikarenakan kegiatan organisasi atau sekedar jalan-jalan bersama teman, kali ini saya kembali ke Jogja karena mendapat tugas mendampingi siswa-siswi kelas 6 rekreasi. Ya, pertama kalinya mendampingi ratusan anak-anak kecil di kota seramai Jogja. Harus bekerja super ekstra. Kalimat pertama kali yang terbesit di pikiran saya ketika mendengar tugas tersebut waktu itu. Belum lagi ini bulan Desember, musim hujan.

Melihat itinerary yang diberikan oleh paguyuban wali murid kelas 6, saya cukup senang. Karena ada banyak tempat yang akan kami kunjungi, meskipun sebagian besar tempat tersebut sudah pernah saya kunjungi sebelumnya. Tapi, tidak apa-apa, saya orangnya memang suka jalan-jalan, meskipun berkali-kali di tempat yang sama dan dengan orang-orang yang sama sekalipun. Baiklah, saya akan tetap menikmati perjalanan kami ini.

Kami berangkat dari Malang selepas maghrib menggunakan tiga bus. Selama perjalanan alhamdulillah tidak ada kendala sedikitpun dan sangat lancar. Bahkan, kami tiba ke Jogja lebih awal dari prediksi. Sehingga membuat kami harus menunggu dan beristirahat di rumah makan cukup lama. Hal ini sangat menguntungkan bagi saya karena saya bisa dengan santai bersih diri dan mempersiapkan segala sesuatunya dengan tenang dan baik. Seperti ganti pakaian dengan rapi, mengisi penuh baterai ponsel pintar yang akan saya gunakan mengabadikan momen selama di tempat tujuan, dan tentunya mempersiapkan energi tubuh dengan sebaik mungkin juga.

Tempat wisata yang dituju

Yang menjadi tujuan pertama kami hari Selasa pagi itu adalah Candi Prambanan. Kalian sudah pasti bisa membayangkan bagaimana panas dan jauhnya berjalan di area candi Prambanan, kan? Saya pun untuk sekian kalinya merasakan hal yang sama seperti kunjungan-kunjungan sebelumnya. Panas terik matahari pagi itu tidak begitu bersahabat. Belum sampai bangunan utama candi, anak-anak sudah banyak yang mengeluh panas. Selama di Candi Prambanan anak-anak lebih banyak bersama kameramen dan wali kelas 6. Karena salah satu tujuan kelas 6 rekreasi ke Jogja adalah membuat album kenangan. Selama anak-anak sibuk bergaya untuk difotom, saya dan guru kelas lain juga menyibukan diri mencuri waktu untuk mengabadikan momen. Mencari spot foto terbaik.

Seusai pemotretan di Candi Prambanan, kami melanjutkan ke Monumen Jogja Kembali (Monjali). Bagi saya tempat ini tidak banyak perubahan yang terjadi. Saya banyak bernostalgia dengan tempat ini. Di tempat ini, saya merasa tidak harus bekerja keras menjaga anak-anak. Kebetulan hari itu Monjali tidak begitu ramai, sehingga mudah mengawasi anak-anak. Apalagi, anak-anak sudah mulai terlihat kewalahan melawan serangan panas hari siang itu. Anak-anak meminta istirahat lebih awal untuk makan dan sholat di sana.

Begitu selesai istirahat dan sholat, kami melanjutkan perjalanan ke Wisata Landmark Merapi. Saya belum pernah ke sini sebelumnya. Untuk ke sana kami menempuh perjalanan cukup lama. Lebih dari satu jam dari Monjali. Saya dan anak-anak sempat tertidur di bus selama perjalanan. Apalagi cuaca mulai mendukung. Selama perjalanan ke sana kami diiringi gerimis dan hujan. Tiba di Landmark Merapi hujan masih menyambut kami. Akhirnya turun ultimatum harus mengenakan jas hujan. Ok, ini seru. Gumam saya dalam hati. Karena ini pertama kalinya saya berwisata dengan mengenakan jas hujan. Memasuki pintu masuk, saya masih diliputi rasa penasaran degan tempat ini. Begitu tiba, masyaAllah… miniatur ikon beberapa negara ada di sini seperti ditata rapi di atas karpet rumput yang hijau dan tertata. Mulai dari miniatur menara Eiffel, kincir angin, jam besar Inggris, dll. Sekilas terasa asri dan segar ditambah hujan yang turun dengan lembut. Aktivitas bergaya dengan berbagai gerakan mulai mewarnai. Anak-anak dan guru-guru mulai berlarian mengabadikan momen dari ikon ke ikon. Saya akui, walau hujan saya sangat menikmati tempat ini. Sayangnya, Tour Leader meminta kami harus segera masuk bus karena akan menuju hotel lebih awal sebab hujan semakin deras. Kami pun istirakat di hotel sampai Rabu pagi.

Selasa malam, saat memastikan anak-anak sudah masuk dan istirahat di kamar masing-masing, saya sempatkan mengunjungi tugu Jogja. Saya mengajak teman sekamar saya, Silvi dan Mbak Tanti berjalan kaki. Jarak hotel ke tugu tidaklah jauh. Bahkan sangat dekat. Saya ingin melepas rindu pada tugu yang sangat bersejarah ini. Saya juga selalu suka mengambil gambar tugu. Tidak lama di tugu, saya dan Silvi tetiba kompak ingin sekalian ke Malioboro. Jadilah kami kesana berjalan kaki disusul Bu Gety dan Ririn. Belum sampai Malioboro, gerimis menyambut kedatangan kami. Cepat-cepat kami berlari menuju area pedangang dan larut menghabiskan rupiah.

Tidak ingin kemalaman sampai hotel, sementara hujan semakin deras, kami sepakat segera pulang dengan memesan grab car. Lucunya, teman saya salah meletakkan lokasi penjemputan, akhirnya kami harus berlari menyeberang jalan cukup jauh untuk menghampiri mobil. Kami ‘bermain’ hujan malam itu. Tiba di hotel kami langsung istirahat dengan nyenyak. Hari pertama saya anggap tidak ada kendala berarti.

Tak Berkategori

Saya tidak kemana

“Ta, tumben status-status dan postinganmu beberapa hari ini tidak berkeliaran di layar hpku?”

Tiba-tiba teman sekantor menegur saya dengan pertanyaan seperti itu tadi pagi.

“Halo, Ta, kamu kemana kok nggak pernah ada kabar beberapa hari ini?”

Sebuah suara dari kota seberang menyapa saya lewat ponsel pintar tadi sore.

Siang tadi, saat jam makan siang seperti biasa saya dan teman-teman kantor makan bersama di kantin. Selama jam makan siang obrolan kami merambah kesana kemari. Sampai seorang teman bertanya perihal keabsenan saya dari beberapa platform media sosial selama beberapa hari ini.

Pertanyaan teman-teman seharian ini memang tidak mungkin tanpa sebab. Ya, beberapa hari ini, terhitung sejak hari Senin saya memutuskan untuk berhenti sejenak (sampai batas waktu yang tidak ditentukan) dari hiruk pikuk dunia media sosial. Awalnya saya memutuskan demikian karena ada suatu permasalahan yang cukup serius bagi saya. Dan saya tidak akan menceritakannya dulu di sini.

Sebelumnya, saya termasuk pegiat media sosial. Bahkan, bisa dikatakan saya kegandrungan terhadap beberapa platform media sosial. Mulai dari Facebook, Instagram, Twitter, dan WhatsApp. Hampir setiap hari saya mengunjungi platform-platform tersebut dan selalu meninggalkan jejak (membuat unggahan). Entah itu foto terbaru saya, kegiatan yang saya ikuti, foto makanan, foto barang yang lucu, atau Informasi penting maupun acara-acara yang akan saya adakan.

Nah, sejak memutuskan untuk absen sejenak dan masih terhitung 3 hari ini, saya tidak pernah mengunggah apapun, foto profil saya ganti dengan gambar yang buka foto saya. Bahkan, saya sengaja keluar dari beberapa akun media sosial yang saya miliki. Selama 3 hari ini saya lebih suka membuka WhatsApp (karena sangat dibutuhkan) dan wordpress. Belakangan ini saya juga mulai tertarik pada WordPress. Di wordpress saya merasa menemukan banyak sekali unggahan yang lebih bermanfaat dibandingkan hanya melihat unggahan foto tentang fashion, food, atau seseorang. Selain itu, budaya membaca saya rasakan sekali di wordpress ini.

Ouh, ya, kembali ke topik awal. Selama tiga hari ini saya merasa hari-hari saya lebih baik. Perasaan saya lebih tenang dan tidak risau. Saya merasa menjadi tidak perlu tahu dengan apa yang terjadi pada aktivitas teman-teman di media sosial. Kebetulan selama satu pekan terkahir ini saya pulang kerja lebih awal. Sehingga saya juga memutuskan untuk belajar tidur siang. Dulu saya selalu gagal. Karena usaha tidur siang tidak saya imbangi dengan meletakkan ponsel pintar Yar jauh-jauh dari jangkauan saya. Tiga hari terkahir ini saya berhasil. Karena ponsel pintar saya tidak lagi mengeluarkan suara pemberitahuan apapun. Saya bisa tidur siang dengan nyenyak.

Karena perubahan yang saya rasakan ini begitu kuat pengaruhnya, saya jadi teringat akan kata seorang teman. Dia mengatakan bahwa keheningan, kesunyian, ketenangan, dan jauh dari hiruk pikuk popularitas adalah satu dari sekian banyak kunci hidup bahagia. Saya ingat, dulu saya selalu menyangkal ketika dia berkata demikian, tapi kali ini saya sepakat. Apalagi, teman saya ini pernah benar-benar lepas dari media sosial selama 6 bulan. Dia hanya komunikasi lewat email dan wordpress. Tapi, aksinya dia ini bisa membuahkan sebuah novel keren. Keren kan dia?

Aksi yang saya lakukan ini ema.g tidak tahu akan bertahan sampai kapan. Saya tidak berani menjanjikan akan sampai berbulan-bulan sepeti teman saya itu. Hanya saja saya mendapat satu pembelajaran penting di sini. Yaitu, tidak semua kehidupan pribadi saya harus diketahui orang lain dan tidak semua kehidupan orang lain harus saya ketahui. Tidak perlu orang lain tahu siapa saya, apa yang saya lakukan, apa yang saya rasakan, tempat apa saja yang pernah saya kunjungi, apa harapan yang ingin saya capai. What I say or do, nobody needs to know.

Tapi, saya akan tetap peduli dengan siapa pun dan sekitar dong. Biarlah kepekaan sosial (simpati dan empati) dalam diri ini terbentuk dengan sendirinya dari interaksi-interkasi langsung dengan proses yang alami. Saya ingin hidup yang damai.

santai

Kejutan-Kejutan Hari Ini

IMG_20181122_102947

Pagi hari, saya berangkat kerja seperti biasanya. Hari ini saya berbekal daftar agenda dan target yang harus saya capai hari ini. Mulai dari harus menyelesaikan urusan dengan wali murid (yang sempat membuat tidur tidak nyenyak), mau mulai menyicil tugas akhir semester, mengurus pergantian ATM, ketemu seorang teman yang sedang berkunjung ke Malang, dan mau keluar bersama teman-teman kerja karena selama seminggu ini saya pulang lebih awal dari biasanya.

Tapi, Tuhan berkehendak lain. Satu persatu kejutan datang.  Tiba di sekolah, saya belum mendapat kabar tentang modul anak-anak yang seharusnya dibagikan hari ini (janji saya dengan wali murid). Segera saja saya dan seorang teman senior menghubungi percetakan untuk memastikan kabar (yang seharusnya ini bukan tugas saya). Jawabannya sedang diusakan. Jawaban yang tidak sesuai harapan. Tapi, at least cukup membuat saya sedikit tenang.

Masih di pagi yang tidak jauh rentang waktunya dengan saya menutup pembicaraan dengan percetakan, saya segera memulai aktivitas dengan mendampingi anak-anak sholat Dhuha. Seusai pendampingan sholat Dhuha saya dan partner mengajar, Silvi (saya memanggilnya tanpa embel-embel bu/ustadzah karena dia adik tingkat saya waktu kuliah. Kami kenal sudah lama),  mengambil soal ujian anak-anak. Pengambilan soal yang seharusnya memerlukan tidak banyak waktu menjadi agak lama karena kunci ruang fotocopy sempat menghilang. Setelah ketemu dan mengambil soal, saya dan Silvi segera menuju kelas. Saya mengira anak-anak pasti sudah duduk tenang menunggu kedatangan kami.

Di uar dugaan, anak-anak berhamburan keluar kelas dan ramai. Mengetahui saya datang, mereka menutup pintu kelas dan terdengar sangat berisik di dalam kelas. Tidak biasanya anak-anak begini pikir saya. Saya masuk kelas dan memastikan anak-anak sudah berdoa, kemudian saya membagikan soal. Berselang sekitar 10 menit dari waktu anak-anak mengerjakan soal, Silvi mendapat kabar bahwa asesor akreditasi sekolah datang ke sekolah hari ini. Saya terkejut tentunya. Tidak lama dari kabar Silvi, saya mendapat telepon dari koordinator bidang akreditasi bahwa saya harus segera ke ruang akreditasi. Oh my Lord,  Saya dan Silvi panik dan bingung.  Apa benar akreditasi hari ini?, lalu siapa yang akan menjaga kelas selama anak-anak ujian?. Dan sudah bisa dipastikan yang berfikir demikian tidak hanya saya dan Silvi, pasti seluruh guru di sekolah.

Beberapa menit koordinasi dengan tim kelas, urusan kelas selesai. Alhamdulillah punya tim kelas yang solid, sehingga bisa dengan cepat punya solusi dari setiap permasalahan. Bersyukur juga ternyata kali ini tidak harus semua guru menemui asesor. Jadilah Silvi tetap di kelas menjaga anak-anak tapi tetap harus sigap dengan tugas lainnya di akreditasi. Jujur, persiapan akreditasi masih belum bisa dikatakan 100%. Karenanya hari ini benar-benar ibarat disambar petir disiang bolong bagi seluruh guru di sekolah.

Tiba di ruang akreditasi, saya mendapati beberapa teman sudah mulai panik sembari mempersiapkan segaja sajian terbaik untuk asesor. Selang lima menit saya duduk di ruang tersebut, saya mendapat kabar buku modul tidak bisa lanjut cetak karena listrik padam. Belum selesai saya mengendalikan diri karena shock, asesor datang memasuki ruang akreditasi. You really need is to get through today, Tata!

Huuufht… secepat kilat saya menyambar telepon dan menghubungi Silvi secara asembunyisembunyi sementara Bapak kepala sekolah sedang memberikan sambutan. Saya meminta tolong Silvi segera pergi ke fotocopy luar sekolah untuk menggandakan modul agar segera bisa dibagikan ke anak-anak sebelum jam pulang. Silvi langsung bergerak cepat dan selalu memberi kabar perkembangan. Silvi memang partner terbaik dan saya sudah mengetahuinya sejak kuliah dulu, karena kami juga satu organisasi. Jadi saya sudah mengerti dengan baik bagaimana kinerja dia. Saya bersyukur diberi kesempatan berpartner dengannya.

Urusan modul sementara saya anggap aman. Fokus saya kembali ke akreditasi. Melihat dan menunggu teman-teman yang sedang diuji oleh asesor adalah sauatu aktivitas yang membosankan bagi saya. Dan sebenarnya pikiran saya juga belum bisa fokus 100% ke akreditasi, saya juga memikirkan anak-anak di kelas bagiamana dan modul kembali menghantui. Saya takut bagaimana jika tidak bisa selesai sebelum anak-anak pulang. Ah, hari ini rasanya otak saya benar-benar penuh pikiran dan cukup membuat tegang.

Berjam-jam di ruang akreditasi dan belum juga giliran saya dipanggil. Tiba-tiba bendahara sekolah meminta saya untuk keluar mengurus pergantain kartu ATM. Yes, bisa kembali ke kelas menemui anak-anak. Pikir saya. Saya pun bergegas keluar ruangan dengan anggun (tanpa membuat asesor tahu). Bayangan saya, sampai kelas saya akan mendapati anak-anak serius mengerjakan soal ujian dan akan senang melihat saya datang (biasanya anak-anak begitu). Tapi, di luar dugaan. Begitu saya membuka pintu kelas, anak-anak sangat ramai dan tidak ada satu pun yang mengerjakan soal ujian. Anehnya lagi, mereka terkejut melihat saya datang dan mereka kompak menyerang saya dengan pertanyaan, “Loooh… ustadzah kok datang sekarang?” Eh, heran dong saya.

Segera saya temui Silvi yang sedang larut dengan kertas-kertas koreksiannya. Tanpa banyak bicara, dia menunjukkan saya papan tulis yang berhiaskan balon aneka warna dan sebuah kue cantik kreasi anak-anak. Ah, ya, anak-anak mau memberikan kejutan kah ini? .  Kembali saya melihat anak-anak yang sudah duduk rapi di kursinya masing-masing dengan raut muka kecewa. Saya yang tadinya cukup tegang dengan kejutan-kejutan (yang tak diharapkan) hari ini, menjadi tersenyum lebar dan seketika hilang segala penat dan kekakuan yang memeluk tubuh. Niat mengurus pergantian kartu ATM pun saya urungkan. Saya menyapa anak-anak menanyakan ujiannya bagaimana dan memberanikan diri bertanya kepada mereka, apa yang mereka rencanakan.

Seorang siswa menjawab dengan cemberut, “kami kan mau memberi kejutan ke ustadzah untuk hari guru. Tapi, Ustadzah keburu datang.” Saya tertawa dan langsung mengajak mereka foto bersama karena saya juga harus segera kembali ke ruang akreditasi. Seketika, Ekspresi wajah mereka berubah. Mereka berebut lari ke depan dan memposisikan diri siap diambil gambarnya. Mereka juga memasangkan flower crown ke kepala saya dan Silvi. Saya dan Silvi langsung mengkondisikan semua hingga jadilah foto di atas. Setelahnya mereka mengeluarkan ke cantik dan dua anak maju mendekati saya dan Silvi. Mereka menyuapi kami dengan kue cantik tersebut. Ah, manis sekali bukan? meskipun saya sudah berkali-kali mendapatkan kejutan serupa (baik saat ulang tahun maupun hari guru) Tapi, tetap saja perasaan haru dan bungah selalu hadir saat-saat seperti ini.

Melihat tawa bahagia mereka, sungguh, seperti pereda segala sakit yang mendera. Anak-anak memang sebaik-baiknya pelipur lara bagi saya. Dari mereka saya belajar banyak hal. Khususnya belajar untuk terus memberikan yang terbaik untuk mereka. Menggandeng tangan mereka dan bersama menciptakan asa.

santai

Tentang Senja

Hari ini, langit sore begitu indah. Cerah dan menghangatkan. Biasanya saya akan menjadi sangat bersemangat menyelesaikan segala tugas atau pekerjaan untuk menyambut senja. Sejak kecil, saya sangat menyukai langit sore yang cerah, yang sepaket dengan senja tentunya.  Entah mengapa saya begitu menyukai senja. Saya tidak tahu definisi senja yang benar itu bagaimana? Tapi, bagi saya senja bukan hanya pembatas antara siang dan malam. Saya yakin lebih dari itu. Setiap kali saya menikmati senja, seperti ada kebahagiaan dan rasa tenang yang tiba-tiba datang menghampiri jiwa dan raga. Hingga saya punya kebiasaan menikmati senja setiap sore. Sejak kecil saya tidak pernah mau melewatkan senja.

Saat masih SD, setiap pulang dari sekolah diniah (TPQ) saya jalan kaki karena jarak sekolah dan rumah cukup dekat.  Saya selalu mengajak teman-teman untuk tidak segera pulang ke rumah masing-masing, saya memilih berlama-lama berhenti di sebuah jembatan bangunan Belanda yang menjadi jalan utama di kampung saya. Di bawah jembatan itu terdapat sungai yang cukup besar.  Dan dari atas jembatan itulah saya dapat menikmati senja yang mengiringi perjalanan pulang saya dengan jelas. Biarpun sering kali saya dan teman-teman diteriaki oleh warga sekitar untuk tidak main-main di jembatan karena sangat berbahaya.  Ya, berbahaya karena jembatan itu sangat ramai dengan kendaraan yang berlalu-lalang. Demi senja, saya abai dong. Hihihi

Kebiasaan saya tersebut berhenti ketika saya harus memasuki usia SMP. Saat itu juga  saya berhenti sekolah diniah. Saya masuk SMP negeri karena itu waktu saya lebih banyak dishodaqohkan untuk belajar ilmu umum.  Sejak saat itu juga saya punya kebiasaan baru. Yaitu menikmati senja dari teras rumah setiap sorenya. Meskipun senjanya tidak dapat dinikmati sepenuhnya, karena terhalang oleh rumah tetangga dan pepohonan. Tapi saya tetap bisa berlama-lama duduk di teras rumah sambil membaca atau mengerjakan tugas sekolah.  Berbeda ketika musim hujan, tidak sebentar pun saya duduk di teras rumah. Ketika musim hujan tiba saya lebih memilih menghabiskan sore di ruang keluarga sambil berkumpul dengan Ibu, bapak, dan adik-adik.

Memasuki usia SMA, saya mengikuti beberapa ekstra kurikuler di sekolah. Sehingga saya sering pulang sore. Saya selalu meminta kepada Bapak untuk tidak lewat jalan raya dan memilih pulang lewat jalan pintas yang di sisi kanan kiri jalanan terdapat hamparan sawah agar saya dapat menikmati senja.  Dan di sepanjang jalan itulah saya mendapati dan menikmati momen-momen yang sekarang sangat saya rindukan. Bercengkrama dengan Bapak di atas motor sambil menikmati senja. Sore yang menawan.  Rasa lelah seharian di sekolah menjadi lenyap seiring dengan kembalinya matahari ke peraduan, seiring dengan tibanya saya di rumah.

Sekian cara yang saya lalui untuk menikmati senja dari kecil akan berbeda lagi ceritanya ketika saya memasuki dunia kuliah.  Ada banyak cara yang bisa saya lakukan untuk menikmati senja di tanah rantau, Malang. Kebetulan, Bapak mencarikan saya kos yang sangat tepat. Bapak sepertinya sudah sangat tahu bagaimana karakter dan kesukaan anak perempuannya ini. Saya tidak menyukai tempat tinggal yang sangat tertutup dan pengap apalagi yang sampai tidak bisa melihat langit secara langsung. Kos saya adalah kos yang sangat asri. Di tengah bangunan berlantai dua tersebut ada sebuah taman dan kolam ikan yang dikelilingi kamar-kamar kos. Area tengah kos tersebut tidak beratapkan apapun. Jadi sinar matahari, udara, dan air hujan bisa langsung berinteraksi baik dengan tanaman, ikan, dan anak-anak kos tentunya.

Suara air dan warna warni tanaman menjadi obat mujarab penghilang penat dan lelah saya dan teman-teman kos setelah seharian di kampus. Yang lebih menyenangkan lagi bagi saya, tempat jemur bajunya ada di lantai tiga. Hal ini membuat kos yang saya tempati menjadi  bangunan yang lebih tinggi dibandingkan bangunan-bangunan sekitar.  Dari atas sana saya bisa menikmati pemandangan area kampus denngan jangkauan lebih luas. dan tentunya, tempat  tersebut menjadi tempat yang sangat sempurna  untuk menghabiskan sore, menikmati senja.

Apabila saya pulang sore dari kampus, saya tidak pernah merasa malas naik ke lantai 3 hanya untuk menghabiskan sore. Saya akan turun ke kamar jika sudah mendengan adzan Maghrib berkumandang. Itu cara saya menikmati senja dari kos. Berbeda lagi ketika saya pulang sore dari kampus, saya terkadang memilih berdiam diri dulu di kampus dan mencari beberapa tempat terbaik untuk menikmati senja. Bersyukur sekali kampus saya (Universitas Muhammadiyah Malang)memiliki lanscape  yang cukup unik, sehingga memiliki banyak tempat untuk menghabiskan sore. Bisa dari lantai 6 gedung kuliah, dari teras utama masjid, dari helipad, atau taman perpus.

Ketika jam kuliah hanya sampai siang, saya sering diajak teman-teman ke alun-alun Batu atau Paralayang hanya untuk menghabiskan sore dengan pemandangan yang  jauh lebih keren lagi dibandingkan menikmati senja di kos atau kampus. Saat itulah saya tidak pernah menolak jika diajak selama tidak ada urusan kuliah dan organisasi. Selain itu, berkat pertemuan saya dengan seseorang lewat organisasi, saya juga  mengenal tempat baru untuk menikmati senja. Sebuah tempat yang sungguh indah dan sempurna. Tempat terbaik dari segala tempat yang saya tahu sebelumnya. Berada di tengah area persawahan, masuk desa sehingga jauh dari hiruk pikuk suara kendaraan, ditambah suara air dari sungai kecil yang membelah sawah-sawah di sekitarnya, di tengah area persawahan tersebut ada sebuah tandon air yang sangat besar dan tinggi. Dari atas tandon air itulah saya bisa menikmati senja dengan sempurna.

Sejak mengenal tempat itu, saya menjadi sering ke sana saat kuliah pulang sore atau saat benar-benar sudah penat dengan aktivitas seharian di kampus. Entah itu sendiri atau dengan teman yang mengenalkan tempat tersebut. Bahkan, ketika awal saya memasuki dunia kerja, saya masih sering mengunjungi tempat tersebut untuk menikmati senja.

Senja selalu meneduhkan, selalu bisa menenangkan hati saya.  Spektrum warna merah, orange, biru, dan jingga yang menyatu dengan sangat apik, menjadikannya tak pernah kehilangan pesonanya.

Tak Berkategori

Tentang Guru

Hari Selasa, adalah hari yang cukup menyenangkan bagi saya di tahun ini. Mengapa? Karena saya bisa pulang kerja tepat waktu (tanpa ada tugas tambahan) sesuai batas minimum jam yang telah ditentukan. Selasa kali ini, seperti biasa, saya bersemangat memacu motor yang akan mengantarkan saya sampai kos.

Tiba di Kos, biasanya saya akan langsung masuk kamar dan langsung bersih diri. Tapi tidak kali ini. Merasa jarum jam masih menunjukkan pukul empat sore lebih sekian menit. Saya memilih duduk di ruang tv, melihat gawai dan masih berseragam. Serentetan pesan mulai terlihat. Sore itu saya memilih membuka pesan dari beberapa wali murid terlebih dahulu.

Saya buka pesan pertama, kedua, dan ketiga. Semua isi pesan tersebut kurang lebih sama. Pertanyaan terkait kejadian anak-anak di sekolah dan perkembangannya di sekolah. Satu persatu pesan tersebut saya balas. Dari salah satu pesan yang saya balas, memang ada satu pesan yang harus saya tindak lanjuti dengan serius. Suara tanda pesan masuk saling bersahutan. Beberapa menit kemudian, jari tangan saya mulai terasa lelah, saya pun memutuskan membalas menggunakan pesan suara ke salah satu wali murid karena memerlukan penjelasanan cukup panjang.

Terlalu serius membalas pesan-pesan yang masuk, saya lupa diri. Tiba-tiba terdengar suara shalawat tarhim (pujian-pujian menjelang waktu adzan) dari pengeras suara masjid di dekat kos. Saya terkejut. Ternyata saya sudah hampir dua jam duduk di ruang tv dengan masih menggunakan seragam, belum mandi, dan meninggalkan kegiatan rutin saya di sore hari; membaca.

Mengingat apa yang terjadi pada saya saat itu, saya tetiba teringat suatu hal. Saya guru dan inilah yang terjadi pada saya. Membalas satu persatu pesan dari wali murid yang tanya tentang perkembangan anaknya di sekolah sampai saya melupakan banyak hal. Saya teringat pada guru-guru lain di luar sana. Apa mereka juga sama seperti saya? Yang sampai melupakan banyak hal mengenai dirinya sendiri demi memikirkan anak didiknya. Lalu, bagaimana dengan guru-guru yang sudah memiliki keluarga? Bukankah begitu sampai rumah mereka harus melaksanakan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga atau kepala rumah tangga. Berinteraksi dengan anggota keluarga yang lain, mendengarkan cerita buah hatinya, atau hal lain yang membuat rumah menjadi hidup.

Tiba-tiba saya juga teringat akan Bapak saya. Bapak juga seorang guru. Sewaktu saya masih tinggal serumah dengan keluarga saya, dari saya kecil hingga menjelang menjadi mahasiswa, saya sering kali melihat Bapak yang baru sampai rumah sepulang dari mengajar harus bergegas pergi lagi karena mendapat telepon dari sekolah dan ada suatu hal yang harus diselesaikan. Pernah juga saya melihat Bapak yang sedang menemani saya dan adik-adik belajar di ruang keluarga pada malam hari, tiba-tiba telepon rumah berdering, setelah Bapak mengangkat telepon tersebut, Bapak langsung berpamitan ke Ibu dan meninggalkan kami semua karena ada salah satu siswanya yang berkelahi dan sedang diamankan oleh polisi.

Suatu hari, pernah juga ketika saya, Bapak, Ibu, dan adik-adik sedang makan malam di ruang makan, tiba-tiba terdengar suara pintu di ketuk, saya membukakan pintu. Ternyata tamunya adalah wali murid. Begitu saya memberitahu siapa yang datang, Bapak langsung menghentikan makan (yang kurang lebih masih habis 3-4 sendok) dan menemui tamu yang akan konsultasi mengenai anak didiknya. Sementara saya dan yang lain melanjutkan makan hingga selesai.

Bahkan, saya juga pernah melihat Bapak tetap keluar rumah pada hari libur untuk mengunjungi salah satu rumah anak didiknya yang sudah tidak bersekolah dikarenakan tidak memiliki kendaraan untuk berangkat ke sekolah. Bapak melakukan observasi di hari libur, bolak-balik kesana kemari memperjuangkan kendaraan untuk anak didiknya tersebut agar tetap bisa bersekolah. Sering kali saya dan adik-adik kecewa dengan Bapak karena dirasa sering ingkar janji untuk mengantarkan dan menemani kami jalan-jalan di hari libur.

Saat itu saya belum mengerti untuk apa Bapak melakukan itu semua. Sampai saya merasa Bapak lebih peduli ke anak didiknya dari pada anaknya sendiri. Kini, ketika saya menjadi guru, saya mengerti semua apa yang dilakukan Bapak waktu itu. Ya, ketika menjadi guru, anak didik memang masuk dalam daftar prioritas.

Guru bagi sebagian orang atau komunitas bukanlah profesi yang istimewa. Bahkan, tidak sedikit orang tua yang melarang anaknya menjadi seorang guru ketika dewasa nanti. Mereka menilai, menjadi guru sangatlah susah (kesejahteraannya) dan juga menjadi guru sangat tidak enak karena harus berhadapan dengan wali murid yang terkadang banyak maunya. Beban seorang guru itu besar. Itulah paradigma yang berkembang di masyarakat terhadap guru. Ya, mereka bebas mengemukakan pendapat dan bebas menilai siapapun. Betul?

Agama saya (Islam), membingkai persepsi yang mulia dan istimewa terkait peran seorang guru. Dalam surat Al Imran ayat 64, Allah menisbahkan diriNya sebagai seorang guru. Dalam ayat tersebut, Allah mengajarkan kepada para Nabi dari kalangan Bani Israil berupa al-Kitab, hikmah, Taurat, dan Injil. Kata kerja yang digunakan adalah “yu’allim” yang berati “yang mengajarkan”. Bagi saya guru adalah pelita segala zaman. Guru adalah orang yang mengajarkan kebaikan pada orang lain.

Tuntutan tugas sebagai pendidik memang tidak sebanding penghargaan. Apalagi kesejahteraan hidupnya. Namun, saya tetap yakin guru akan mendapat balasan yang mulia berkat jasa mulia mereka. Dan saya selalu berdoa, semoga guru di seluruh dunia selalu bahagia dan hidupnya selalu diliputi kebaikan. Aamiinn

Tak Berkategori

Sebuah Apresiasi yang tak Terduga

Selasa, minggu lalu, saya bertemu dengan seorang mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Risna namanya. Aku memanggilanya dengan embel-embel Dik, karena ternyata Ia adalah adik tingkatku di kampus tempatku belajar dulu. Sebenarnya adik tingkat lintas generasi sih. Karena usia kami berbeda sekitar 5 tahunan. Malam itu Ia menjadi adik yang sangat manis dan baik hati.

Jauh-jauh hari sebelum kami bertemu. Saya tidak tahu siapa Risna. Begitu buku Aku Bukan Hulk proses cetak dan saya sedang gencar-gencarnya membuka pemesanan buku tersebut, Risna menghubungi saya. Ia memperkenalkan dirinya dengan baik dan ramah -via WhatsApp. Ia berbasa-basi memulai perkenalan. Hingga mencapai inti, Ia mengatakan akan melakukan penelitian dengan buku saya untuk thesisnya. MasyaAllah, baru saja buku proses cetak tapi sudah ada yang tertarik dengan buku saya. Gumam saya waktu itu -kegirangan di hadapan siswa. Saya masih terheran-heran karena saya merasa penulis pemula. Karya saya masih belum pantas dijadikan bahan penelitian rasanya. Tapi, saya terdorong oleh keinginan untuk membantu. Akhirnya saya setuju.

Begitu buku sudah di tangan saya. Saya mengajaknya bertemu di pameran sejuta buku di Taman Krida. Ketika kamu bertemu, kami tidak langsung membahas tujuan utama dari pertemuan kami. Saya mengajaknya berkeliling mencari buku di pameran tersebut. Obrolan singkat selama memasuki ruang pameran sudah bisa saya tebak dia juga suka membaca buku. Tiba di ruang pameran, beberapa menit kami tenggelam dengan dunia masing-masing. Kami berpisah untuk mencari buku selera masing-masing. Sempat saya berfikir, wah… Ini sudah malam. Tapi kami sibuk mencari buku masing-masing.

Sekitar tiga puluh menit lebih kami berpisah, saya sudah meminang empat buah buku. Saya menghampirinya. Risna pun langsung mengakhiri pencariannya. Kemudian kami menuju kasir. Keluar dari ruang pameran Risna mengajak saya keluar Taman Krida untuk menawarkan saya beberapa makanan. Saya pun memilih angsle -karena saya merasa kenyang dan tidak ingin makan malam itu. Kami duduk di lapak-lapak yang digelar di belakang beberapa rombongan makanan. Saya menyerahkan satu buku kepadanya untuk Ia amati terlebih dahulu sambil menunggu angsle datang ke kami. Obrolan kami pun mengarah ke tujuan utama. Risna dengan malu-malu dan penuh senyum bercerita alasannya kenapa memilih buku saya untuk dijadikan bahan penelitian.

Risna berkata bahwa Ia sedang menyusun thesis yang berkaitan dengan proses kreatif sebuah buku diciptakan. Bagaimana ia tahu dan memilih buku saya? Ia mengatakan bahwa mengetahui info tentang buku saya dan mendapat rekomendasi dari seorang dosen senior Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Muhammadiyah Malang, Bu Sugiarti. Begitu Ia menyebut nama dosen tersebut, saya terbelalak dan berhenti menyeduh angsle hangat di tangan saya. Saya tahu betul siapa dosen tersebut. Kembali pikiran tloenuh dengan tanda tanya, kok Bu Sugiarti bisa tahu karya saya. Risna tertawa melihat ekspresi saya. Ia kembali melanjutkan ceritanua, begitu mendapat rekomendasi dari dosen tersebut, tanpa pikir panjang Risna langsung mencari kontak saya dan menghubungi saya.

Sambil menikmati semangkok angsle yang sisa separoh mangkok, Ia mulai menggencarkan aksinya untuk mewawancarai saya. Sebisa mungkin apa yang Ia tanyakan saya jawab sebaik mungkin. Setelah wawancara selesai, obrolan kami semakin hangat. Waktu itu saya yang banyak bertanya ke Risna. MasyaAllah, ternyata Ia adalah orang yang inspiratif. Risna menceritakan bagaimana Ia bisa melanjutkan kuliahnya hingga ke S2 yang sebenarnya untuk S1 saja sudah harus merangkak dengan segala keterbatasan biaya. Selama di S1 Risna memang seorang akademisi yang baik. Nilainya selalu bagus dan mendapat kepercayaan dosen-dosen untuk berbagai hal. Hingga akhirnya Ia mendapat dukungan -dalam banyak hal untuk melanjutkan S2 dengan harapan ketika lulus nanti Ia kembali mengabdi untuk almamaternya (atau kampus yang membutuhkannya).

Jarum jam mendekati angka yang krusial -jam malam anak kos. Obrolan segera saya akhiri. Sebelum kami beranjak, Risna menjulurkan buku Aku Bukan Hulk kepada saya. Ia meminta tanda tangan saya. Saya tertawa tidak percaya dan merasa belum pantas. Namun, Ia tetap memaksa saya. Saya pun membubuhkan tanda tangan dan beberapa kalimat untuk Risna. Tak terduga lagi, Risna menjulurkan sebuah buku lagi. Kali ini buku yang berbeda. Ternyata buku yang Ia bayar di kasir ketika di ruang pameran itu untuk saya.

Saya tidak tahu mengapa Ia memilih judul buku ini untuk saya? 😅

Pertemuan dengan Risna malam itu membuat saya belajar beberapa hal. Di antaranya, semangat dalam menyelesaikan amanah yang Ia emban, kesabaran dan keikhlasan bersahabat dengan keadaan serta dari Risna saya sadar bahwa apa yang kita lakukan (tulis) akan mempunyai dampak terhadap orang lain, entah itu dampak positif atau pun negatif. Semoga Risna menjadi perempuan yang tangguh namun tetap lembut hatinya.

Tak Berkategori

Aku Bukan Hulk

Aku Bukan Hulk, sebelumnya tidak pernah terpikirkan oleh saya akan menuliskan judul buku tersebut pada karya solo perdana saya. Terlebih, menulis sebuah buku adalah hal yang sangat mustahil bagi saya waktu itu. Kalau pun terbesit khayalan menjadi seorang penulis, yang ada di benak saya waktu itu adalah saya akan menulis sebuah novel yang bergenre romantis.

Tetapi, pada kenyataannya saya berhasil menuliskan dan mewujudkan sebuah buku dengan judul tersebut. Novel anak yang di dalamnya penuh dengan dunia anak. Jika ada yang tanya bagaimana bisa memilih menulis novel anak? Nah, inilah saatnya saya memberi tahu semua.

Oktober 2017 lalu, saya bertemu dengan seorang teman yang sudah lama tidak berjumpa (seorang penulis hebat bagi saya), Bang A.S. Rosyid. Dia sebenarnya juga janjian dengan seorang penulis sekaligus blogger. Kak Lalu, begitu Bang A.S. Rosyid mengenalkannya pada saya. Kami bertiga bertemu di Toko Eskrim Oen (toko eskrim legendaris di kota Malang). Obrolan kami mengalir, meskipun kehadiran saya di sana lebih banyak pendengar. 😀 Karena jujur, agak minder bertemu dengan penulis-penulis hebat seperti mereka berdua. Namun, mereka berdua tahu betul bagaimana membuat suasana pertemuan tidak hanya dikuasai oleh beberapa pihak saja. Sesekali mereka berdua menyinggung tentang proyek menulisku dengan Grasindo -tentang ini mungkin akan dibahas di tulisan berikutnya

Ditemani tiga varian es produk toko es tersebut, obrolan mereka sampai pada pembahasan tentang buku bacaan anak. Kak Lalu bercerita banyak pengalamannya membimbing kegiatan literasi di Surabaya. Kemudian tanpa disangka, Kak Lalu mengatakan kalimat yang membuat saya terhentak.

Kalau seperti Tata ini bagus lho, menulis buku pelajaran untuk anak. Apalagi bisa menulis cerita anak. Karena menurut Pak Dharma, saat ini anak-anak usia SD sampai SMP kekurangan buku bacaan yang pas dan sesuai dengan usia mereka. Itu miris sekali.

Mendengar ucapakan Kak Lalu, saya menjadi terdiam. Eh, ya, benar juga. Kalau anak-anak baca buku yang tidak sesuai, apa jadinya?. Sejak pertemuan itulah saya terus dibayangi oleh kekhawatiran tersebut.

Dua bulan setelah pertemuan tersebut, gayung bersambut. Saya mendapat kesempatan mengikuti pelatihan menulis dan diwajibkan membuat satu buku setelah pelatihan tersebut. Seketika saya teringat ucapan Kak Lalu, tanpa perlu perenungan panjang, saya langsung memutuskan untuk membuat buku anak. Aku Bukan Hulk menjadi pilihan karya solo perdana saya. Mengingat juga kehidupan saya setiap harinya bersama anak. Melalui pengamatan dan membuka memori-memori saat bersama anak-anak menjadi bahan terbaik dalam menulis. Banyak inspirasi yang datang dari mereka.

Selama menulis buku Aku Bukan Hulk, saya tidak menemukan jalan mulus. Berbagai kendala terkadang hadir. Begitu juga dengan mood menulis, datang silih berganti dengan berbagai wujud. Entah itu berwujud tugas pekerjaan yang menumpuk, handphone,godaan untuk bermain di akhir pekan hingga lupa waktu, de el el. Perjuangan mengatur waktu antara pekerjaan dan menulis menjadi tantangan tersendiri. Waktu satu bulan yang diberikan untuk menyelesaikan buku tidak dapat saya maksimalkan dengan baik. Beruntung, tiap kali mood dan waktu tidak bersahabat. Ada A.S. Rosyid yang saya anggap sebagai mentor.

Sepuluh hari dari waktu yang ditentukan untuk menulis berlalu begitu saja. Saya sempat merasa panik, akhirnya saya bertekad dalam waktu 20 hari yang tersisa saya akan menulis setiap harinya. Selama tujuh hari saya berhasil menulis secara konsisten. Hasil tulisan yang saya buat saya setorkan ke Bang A.S. Rosyid untuk dimintai pendapat. Komentar pertama dari Bang A.S. Rosyid saat itu melekat baik diingatan saya.

Waaaah… Tulisanmu ini sudah mengangkat permasalahan dari awal. Berani sekali. Kamu harus mempertahankan permasalahan-permasalahan seperti ini lho nanti sampai buku ini selesai. Kamu bisa?

Saya terdiam sejenak. Kemudian, Bang A.S. Rosyid meminta saya melanjutkan tulisan dan akan dikoreksi lagi beberapa hari berikutnya. Mendengar komentar seperti itu sempat membuat saya berfikir keras, jadi lanjut tidak? Atau ganti cerita. Tapi ini tidak mungkin. Waktu semakin sempit. Tidak, saya menepis semua keraguan itu. Saya bertekad melanjutkannya. Menulis, menulis, dan menulis. Bahkan, saking semangatnya menulis dan takut kehilangan ide terkadang saat rapat ataupun jalan dengan teman saya membawa laptop dan menulis di sela-sela itu semua. Menjadi cuek dengan sekirar? ya, ditegur teman atau pemimpin rapat? ya. Tapi di balik itu semua lebih banyak orang sekitar yang mengerti dan bahkan mendukung. Bagaimana jika kehabisan ide? Saya memilih berhenti menulis dan keluar untuk sekedar nongkrong di cafe, ngobrol bersama teman-teman atau membaca buku. Biasanya, setelah itu gagasan-gagasan baru telah mengantre di kepala saya.

Delapan belas hari naskah tersebut selesai. Saat itu saya berseru, ini keren!. Naskah selesai sebelum deadline. Sesegera mungkin saya menyerahkan ke editor. Setelah itu saya merasakan mulai merindukan masa-masa dikejar deadline, menulis di berbagai tempat, rapat sambil menulis, sharing dengan beberapa teman. Penantian baru datang, saya disibukkan oleh penantian proses pendaftaran ISBN dan cetak. Meski naskah mampu saya selesaikan pada bulan Februari 2017, saya baru bisa memegang buku tersebut pada bulan Oktober 2017. Ya, ada beberapa kendala teknis yang membuat saya ahrus bersabar menunggu. Bahkan, selama menunggu buku Aku Bukan Hulk, saya telah melahirkan adik-adiknya yang baru.

Kini, merasakan buku karya sendiri di tangan dan membaca ulang karya sendiri, sungguh, rasanya tidak bisa diungkapkan. Yang pasti saat melihat langsung karya sendiri, saat itu saya berdoa, “Tuhan, buatlah siapapun yang melihat buku saya akan tertarik untuk segera meminangnya atau segera membawanya ke kasir. Lalu, masukkan saya dan keluarga saya masuk surga.” 😀 agak nakal ya doaku? memang. Tapi, saya masih punya harapan baik kok. Saya berharap setiap kali orang yang selesai membaca buku saya akan berakhir dengan senyuman. Biarpun mereka yang membaca adalah anak-anak. Justru dari sanalah motivasi saya akan lahir kembali.

Untuk Bang A.S. Rosyid dan Kak Lalu, terima kasih telah mematahkan segala macam ketakutan dan keraguan yang ada pada diri saya. Kalian guru pertama dan mahaguru bagi saya. Meski saat ini tidak bisa belajar secara langsung -khususnya Kak Lalu.

Untuk pembaca, kalian tahu? Karya dan saran atau kritik adalah sepasang kekasih yang tidak akan pernah terpisahkan. Setelah menikmati tulisan saya, apapun itu uneg-uneg yang ada pada diri kalian, sampaikanlah pada saya. Sepahit apapun rasanya, sila. Kalian adalah penulis dalam diri saya yang nantinya siapa tau akan saya jadikan bahan tulisan selanjutnya. 🙂

Tak Berkategori

Newbie yang Terlambat

Hai,

Tulisan ini merupakan postingan pertamaku di sini. Blog ini sebenarnya sudah beberapa bulan yang lalu aku buat, tapi aku baru memberanikan diri mengisinya sekarang ini.

Aku memang pengguna baru blog. Dulu, ketika masih menjadi mahasiswa pernah memelihara tulisan di platform yang lain -yang menurutku masih saudaranya wordpress, tapi karena ada suatu kesalahan tiba-tiba akunku menghilang tanpa jejak, aku mengabaikannya, tidak berusaha memperbaiki, hingga aku juga ikut berhenti menulis untuk beberapa saat. Setelahnya, tulisanku hanya tercecer di media sosial.

Saat ini, aku memiliki keinginan kembali untuk menyimpan dan mengabadikan tulisanku dengan rapi di sini. Karenanya aku membuat akun ini. Ya, itu masih salah satu alasanku sih. Sebenarnya, aku memiliki banyak alasan mengapa aku membuat blog ini. Tapi mungkin tidak sebaiknya aku ulas semuanya di awal pertemuan ini. Mungkin lain kali bisa kuceritakan semuanya kepada kalian, bahkan jika perlu kita duduk dan ngopi bersama. Hehehe

Oh, ya, bicara tentang tulisan, jangan sampai kalian berfikir aku pandai menulis. Tidak! Aku belum mahir menulis, tulisanku payah dan kacau. Karena itulah menulis bagiku memerlukan sebuah keberanian. Aku masih perlu berlatih banyak untuk menulis.

Aku berharap, dari blog ini aku akan lebih mendapat banyak kesempatan untuk terus belajar dan memperbaiki tulisanku. Juga, ke depannya, semoga kalian-kalian semua berkenan membaca setiap apa yang aku tulis.

Mohon dukungannya, ya.

Mohon maaf jika perkenalannya kurang berkesan atau membosankan. Tapi percayalah, aku orang yang suka bercerita juga suka mendengarkan cerita. Hihihi